Totalitas Berkarya Bersama Dakwah

Majelis Taklim Al-Kahfi

Totalitas Berkarya Bersama Dakwah

Majelis Taklim Al-Kahfi

Totalitas Berkarya Bersama Dakwah

Majelis Taklim Al-Kahfi

Tampilkan postingan dengan label Dunia Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Tokoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Oktober 2010

Mengenal 7 Karya An Nawawi Al Bantani

Ada yang menyebut karyanya mencapai 30 kitab, sebagian lain menyebut 38 kitab

Hidayatullah.com--Ismail Basya Al Baghdadi dalam karya beliau, Hidayah Al Arifin menyebutkan bahwa karya An Nawawi Al Bantani mencapai 30. Sedangkan Joseph Elian Serkis dalam Al Mu’jam Al Mathbu’at Al Arabiyah wa Al Mu`arrabah menyebutkan bahwa jumlah karya ulama nusantara yang mencari ilmu di Mesir dan Hijaz ini mencapai 38 kitab. Dari karya ulama yang wafat tahun 1316 H ini, tak ada salahnya untuk mengetahui 7 di antaranya, yang populer dikaji di banyak pesantren di Indonesia.

Nihayah Az Zain fi Iryad Al Mubtadi`in

Merupakan salah satu karya An Nawawi Al Bantani dalam bidang fiqih madzhab As Syafi’i. Merupakan syarah dari Quratu Al ‘Ain bi Muhimmati Ad Din, karya Zain Ad Din Al Malibari.

An Nawawi sendiri menyebutkan bahwa dalam mensyarah, beliau tidak mengambil pemikiran sendiri, namun menukil dari beberapa karya ulama di antaranya Nihayah Al Amal, karya Ad Dimyathi, Nihayah Al Muhtj karya Ar Ramli, Tuhfah Al Muhtaj dan Fath Al Jawwad karya Al Haitmi, serta An Nihayah Syarh Abi Syuja’.

An Nihayah kini tercetak satu jilid tebal, mencapai sekitar 400 halaman.         

Qathr Al Ghaits


Karya yang satu ini juga merupakan syarah dari karya ulama sebelumnya, yakni Al Mufassir Al Muhaddits Abu Laits As Samarkandi, mengenai pembahasan masalah akidah.

Karya yang memiliki nama lengkap Qathr Al Ghaits fi Syarh Masa`il Abi Laits ini merupakan karya Al Bantani yang cukup ringkas, setebal 12 halaman.

Ats Tsimar Al Yani’ah


Karya Al Bantani dalam bidang fiqih termasuk Ats Tsimar Al Yani’ah, yang merupakan syarah dari karya Syeikh Muhammad Hasbullah yang bernama Ar Riyadh Al Badi’ah.

Membahas beberapa bab fiqih seperti masalah thaharah, shalat, zakat, puasa, I’taikaf, haji dan umrah, aqiqah dan nadzar.

Tidak seperti Nihayah Az Zain, Ats Tsimar Al Yani’ah lebih tipis jumlah halamannya, yakni sekitar 100 halaman.

Nasha`ih Al Ibad

Merupakan syarah dari karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani, yang berjudul Al Munabbihat ‘Ala Al Isti’dad li Al Yaum Al Mi’ad, yang berisi 214  tema yang berkisar menganai masalah tazkiyah an nafs. Dari tema tema tersebut terdapat 45 hadits dan sisanya atsar.


Tanqih Al Qaul

Karya Al Bantani dalam syarah hadits selain Nasha’ih Al Ibad adalah Tanqih Al Qaul Al Hatsits, yang merupakan syarah dari kitab Lubab Al Hadits, karya Hafidz As Suyuthi.

Lubab Al Hadits sendiri merupakan kumpulan hadits dan atsar yang dinilai shahih oleh Al Hafidz As Suyuthi. Terdiri dari 40 bab, dan tiap babnya terkandung 10 hadits dan astar, sehingga jumlah total hadits dan atsar mencapai 400.

Dalam At Tanqih, pembahasan berkonsentrasi pada masalah fadhail amal.

Muraqi Al Ubudiyah

Merupakan syarah dari matan Bidayah Al Hidayah karya Imam Al Ghazali yang mengupas mengenai masalah akhlak dan tazkiyah an nafz. Yang mencakup apa yang harus dilakukan oleh seorang muslim dalam sehari serta penjagaan terhadap anggota badan dari berbuat maksiat.



Kasyifah As Saja

Syarah matan Safinah An Najah karya Syeikh Salim bin Sumair Al Hadrami. Sebuah kitab fiqih yang disajikan secara ringkas yang membahas rukun Islam minus haji. [tho/hidayatullah.com]

Ulama-ulama Nusantara yang Sudah Mendunia

Mereka umumnya menghabiskan hidupnya dengan mengajar di Mekah, sebagian lagi pulang ke Indonesia

Hidayatullah.com--
Sejarah mencatat beberapa ulama Indonesia pada masa lalu pernah berkiprah hingga namanya dikenal dunia. Mereka pada umumnya berguru ke Mekah dan Madinah. Sebagian menghabiskan hidupnya dengan mengajar di sana, sebagian lagi pulang ke Indonesia. Berikut di antara mereka:

Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari

Namanya tak hanya dikenal oleh masyarkaat Nusantara, tapi juga kaum muslimin di Filipina, Turki, Arab Saudi, Mesir, dan India. Lahir di Banjar tanggal 15 Safar 1122 (17 Mei 1710). Selama hampir 35 tahun berguru pada ulama-ulama terkenal di Mekah dan Madinah seperti Syeikh Ataillah bin Ahmad Al-Misriy, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdiy, Syeikh Ahmad bin Abd Mun'im Syeikh, dan Muhammad bin Abd Karim Al-Qadiri.

Selepas berguru di Mekah dan Madinah, Al-Banjari kembali ke tanah air. Ia membuka pusat-pusat studi Islam untuk membantu masyarakat menimba ilmu pengetahuan.

Al-Banjari berhasil menulis berpuluh-puluh karya. Salah satu yang termasyhur adalah kitab Sabilal Muhtadin, yang kerap menjadi referensi para penulis buku fikih.

Pada 6 Syawal 1227 (3 Oktober 1812), Al-Banjari wafat. Untuk mengenang karya dan jasanya, masyarakat Banjarmasin mendirikan Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli Al-Minangkabawi

Ia seangkatan dengan Hasyim Asyhari, pendiri Nahdlatul Ulama. Lahir di Candan, Sumatera Barat, pada tahun 1871.

Sulaiman menuntut ilmu agama di Mekah dan antara lain berguru pada ulama Minang yang tinggal di Tanah Suci, Syeikh Ahmad Khatib Abdul Lathif Al-Minangkabawi. Sekembali ke tanah air, ia menyebarkan ajaran Islam dengan sistem lesehan (duduk bersila). Baru pada tahun 1928, Al-Minangkabawi menggunakan bangku.

Pada tahun 1928 juga, Al-Minangkabawi bersama Syeikh Abbas Ladang Lawas dan Syeikh Muhammad Jamil Jaho menggagas berdirinya organisasi yang sempat menjadi partai politik, yaitu Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti).

Syeikh Sayyid Utsman Betawi

Nama lengkapnya Sayyid Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Umar bin Yahya Al-Alawi, namun lebih dikenal dengan sebutan Habib Utsman Mufti Betawi. Lahir di Pekojan, Jakarta, 17 Rabiul Awwal 1238 (2 Desember 1822).

Habib Utsman adalah sahabat ulama besar Sayyid Yusuf An-Nabhani, mufti di Beirut. Selama di Mekah, Habib Utsman menimba ilmu pada Syeikh Ahmad Ad-Dimyathi, Sayyid Muhammad bin Husein Al-Habsyi, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syeikh Rahmatullah.

Semasa hidupnya, Mufti Betawi berhasil menulis karya sebanyak 109 buah. Dalam memutuskan suatu perkara ia dikenal sangat tegas. Tak heran kalau ulama-ulama asli Jakarta yang ada sekarang sangat mengagumi sosok Mufti Betawi dan menjadikannya guru teladan.

Syeikh Muhammad Khalil Al-Maduri

Lahir pada 11 Jamadil Akhir 1235 (27 Januari 1820) di Bangkalan, Madura. Al-Maduri berasal dari keluarga ulama. Ia sempat berguru kepada Kiai Muhammad Nur di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur.

Al-Maduri semasa mudanya berhasil menghafal Al-Qur'an (hafizh). Juga mampu menguasai qiraah tujuh (tujuh cara membaca Al-Qur'an).

Tahun 1859 Al-Maduri menuju ke Mekah. Ia bersahabat dengan Syeikh Nawawi Al-Bantani. Sekembalinya ke tanah air, Al-Maduri mendirikan pondok pesantren di daerah Cengkebuan, 1 kilometer dari tanah kelahirannya.

Pada masa penjajahan Belanda, ia sudah sepuh dan tak lagi mampu terlibat langsung dalam kontak fisik. Namun ia sangat aktif menumbuhkan sikap perlawanan kepada para pemuda di pondok pesantrennya. Akibatnya, Al-Maduri ditahan Belanda karena dituduh melindungi para pemberontak.

Muhammad Khalil Al-Maduri wafat pada usia 106 tahun (29 Ramadan 1341 atau 14 Mei 1923). Semasa hidup telah membina kader-kader ulama untuk generasi setelahnya, seperti KH Hasyim Asy’ari (pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang) dan KH Bisri Mustofa (pendiri Pondok Pesantren Rembang).

Syeikh Nawawi Al-Bantani


Al-Bantani kerap disebut sebagai “Imam Nawawi Kedua”. Gelar ini diberikan oleh Syeikh Wan Ahmad bin Muhammad Zain Al-Fathani.

Lahir pada penghujung abad ke-18 di Banten. Ia memiliki nama lengkap Muhammad Nawawi bin Umar ibnu Arabi bin Ali Al-Jawi Al-Bantani.

Selama di Mekah, Nawawi Al-Bantani belajar pada beberapa ulama terkenal seperti Syeikh Ahmad An-Nahrawi, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah Al-Maliki, Syeikh Ahmad Ad-Dumyati, Syeikh Muhammad Khathib Duma Al-Hanbali, Syeikh Zainuddin Aceh, dan Syeikh Ahmad Khathib Sambas.

Setiap kali mengajar di Masjidil Haram, ia selalu dikelilingi sekitar 200-an orang. Pernah diundang ke Universitas Al-Azhar, Mesir, untuk memberi ceramah atau fatwa-fatwa pada beberapa perkara khusus.

Syeikh Muhammad Mukhtar Al-Bughri
Lahir di Bogor, Jawa Barat, pada 14 Sya'ban 1278 (14 Februari 1862). Nama lengkapnya Muhammad Mukhtar bin Atharid Al-Bughri Al-Batawi Al-Jawi. Pendidikan agamanya didapat langsung dari orang tuanya. Semasa muda, ia telah mampu menghafal Al-Qur'an.

Tahun 1299 hijrah ke Betawi (Jakarta) untuk menimba ilmu kepada Sayyid Utsman. Tidak puas juga, ia kemudian menuju ke Mekah.

Selama di Mekah, Mukhtar Al-Bughri belajar kepada ulama termasyhur, Syeikh Ahmad Al-Fathani. Ia juga diberi kesempatan untuk mengajar di Masjidil-Haram selama 28 tahun.

Setiap kesempatan mengajar, ia selalu dikelilingi sekitar 400-an muridnya. Semasa hidupnya telah menulis berpuluh-puluh karya. Mukhtar Al-Bughri wafat di Mekah pada 17 Shafar 1349 (13 Juli 1930).

Syeikh Abdul Hamid Asahan

Nama lengkapnya Syeikh Abdul Hamid bin Mahmud. Lahir di  Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara, tahun 1298 H (1880).

Sejak kecil ia belajar kepada saudara iparnya yang bernama Haji Zainuddin. Setelah itu belajar kepada ulama termasyhur di Asahan bernama Syeikh Muhammad Isa, mufti Kerajaan Asahan.

Syeikh Muhammad Isa menganjurkan Abdul Hamid untuk menimba ilmu ke Mekah. Pasalnya, Abdul Hamid memiliki talenta untuk menjadi ulama.

Sampai di Mekah, Abdul Hamid Asahan langsung diterima belajar di halaqah Syeikh Ahmad Al-Fathani. Sayang, dua tahun kemudian Syeikh Ahmad Al-Fathani meninggal dunia (1325 H/1908). Walau berinteraksi hanya sekitar dua tahun, rasa kasih sayang Syeikh Ahmad Al-Fathani begitu kuat.

Abdul Hamid Asahan kemudian berguru pada Syeikh Ahmad Khathib bin Abdul Lathif Minangkabawi. Proses belajar ini sempat terganggu karena meletusnya Perang Dunia I (1914 - 1918). Ia terpaksa pulang ke Tanjung Balai Asahan.

Abdul Hamid kemudian mendirikan Madrasah 'Ulumil 'Arabiyah. Seiring berjalannya waktu, madrasah ini berkembang pesat dan menjadi termasyhur di Sumatera Utara.

Abdul Hamid Asahan melengkapi hidupnya dengan menulis berpuluh-puluh buku. Ia wafat pada 10 Rabiul Akhir 1370 (18 Februari 1951). [syahid/hid/hidayatullah.com]

Minggu, 12 September 2010

Biografi Singkat Imam Syafi’i

Imam Syafi’i bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Idris As Syafi’i, lahir di Gaza, Palestina pada tahun 150 Hijriah (767-820 M), berasal dari keturunan bangsawan Qurays dan masih keluarga jauh rasulullah SAW. dari ayahnya, garis keturunannya bertemu di Abdul Manaf (kakek ketiga rasulullah) dan dari ibunya masih merupakan cicit Ali bin Abi Thalib r.a. Semasa dalam kandungan, kedua orang tuanya meninggalkan Mekkah menuju palestina, setibanya di Gaza, ayahnya jatuh sakit dan berpulang ke rahmatullah, kemudian beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi yang sangat prihatin dan seba kekurangan, pada usia 2 tahun, ia bersama ibunya kembali ke mekkah dan di kota inilah Imam Syafi’i mendapat pengasuhan dari ibu dan keluarganya secara lebih intensif.


Saat berusia 9 tahun, beliau telah menghafal seluruh ayat Al Quran dengan lancar bahkan beliau sempat 16 kali khatam Al Quran dalam perjalanannya dari Mekkah menuju Madinah. Setahun kemudian, kitab Al Muwatha’ karangan imam malik yang berisikan 1.720 hadis pilihan juga dihafalnya di luar kepala, Imam Syafi’i juga menekuni bahasa dan sastra Arab di dusun badui bani hundail selama beberapa tahun, kemudian beliau kembali ke Mekkah dan belajar fiqh dari seorang ulama besar yang juga mufti kota Mekkah pada saat itu yaitu Imam Muslim bin Khalid Azzanni. Kecerdasannya inilah yang membuat dirinya dalam usia yang sangat muda (15 tahun) telah duduk di kursi mufti kota Mekkah, namun demikian Imam Syafi’i belum merasa puas menuntut ilmu karena semakin dalam beliau menekuni suatu ilmu, semakin banyak yang belum beliau mengerti, sehingga tidak mengherankan bila guru Imam Syafi’i begitu banyak jumlahnya sama dengan banyaknya para muridnya.

Meskipun Imam Syafi’i menguasai hampir seluruh disiplin ilmu, namun beliau lebih dikenal sebagai ahli hadis dan hukum karena inti pemikirannya terfokus pada dua cabang ilmu tersebut, pembelaannya yang besar terhadap sunnah Nabi sehingga beliau digelari Nasuru Sunnah (Pembela Sunnah Nabi). Dalam pandangannya, sunnah Nabi mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, malah beberapa kalangan menyebutkan bahwa Imam Syafi’i menyetarakan kedudukan sunnah dengan Al Quran dalam kaitannya sebagai sumber hukum islam, karena itu, menurut beliau setiap hukum yang ditetapkan oleh rasulullah pada hakekatnya merupakan hasil pemahaman yang diperoleh Nabi dari pemahamannya terhadap Al Quran. Selain kedua sumber tersebut (Al Quran dan Hadis), dalam mengambil suatu ketetapan hukum, Imam Syafi’i juga menggunakan Ijma’, Qiyas dan istidlal (penalaran) sebagai dasar hukum islam.

Berkaitan dengan bid’ah, Imam Syafi’i berpendapat bahwa bid’ah itu terbagi menjadi dua macam, yaitu bid’ah terpuji dan sesat, dikatakan terpuji jika bid’ah tersebut selaras dengan prinsip prinsip Al Quran dan Sunnah dan sebaliknya. dalam soal taklid, beliau selalu memberikan perhatian kepada murid muridnya agar tidak menerima begitu saja pendapat pendapat dan hasil ijtihadnya, beliau tidak senang murid muridnya bertaklid buta pada pendapat dan ijtihadnya, sebaliknya malah menyuruh untuk bersikap kritis dan berhati hati dalam menerima suatu pendapat, sebagaimana ungkapan beliau ” Inilah ijtihadku, apabila kalian menemukan ijtihad lain yang lebih baik dari ijtihadku maka ikutilah ijtihad tersebut “.

Diantara karya karya Imam Syafi’i yaitu Al Risalah, Al Umm yang mencakup isi beberapa kitabnya, selain itu juga buku Al Musnadberisi tentang hadis hadis rasulullahyang dihimpun dalam kitab Umm serta ikhtilaf Al hadis.
http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-imam-syafii.html

Sabtu, 11 September 2010

Kisah Seorang Muslim New York yang Membantu Kalangan Tuna Wisma

   
Kisah Seorang Muslim New York yang Membantu Kalangan Tuna Wisma

WASHINGTON--Ramadhan tiba. Yusur Ramelize, warga Muslim di New York, mulai berpuasa, memperbanyak ibadah, dan memberi sedekah kepada orang miskin. Tanpa pandang latar belakang agamanya, dia membantu orang-orang tak punya di sana.

Bahkan, Ramelize menghabiskan sebagian besar waktunya selama Ramadhan ini di jalanan. Dia tak henti membantu para tunawisma di kotanya. Dia telah melakukan itu selama dua tahun terakhir. Awalnya, untuk lebih memahami cara hidup para tunawisma itu, tahun lalu, dia sempat tinggal di jalangan selama sepekan.

''Aku bertanya pada diriku sendiri, 'Apa yang dapat saya lakukan untuk meningkatkan kepedulian?' Dan kemudian aku memutuskan untuk tinggal di jalanan selama sehari,'' kata Ramelize. ''Tapi kemudian aku berkata, 'Kau tahu apa?' Saya ingin membuat pengorbanan terbesar dan karena itu memutuskan untuk tinggal seperti tunawisma selama sepekan.''

Ramelize merupakan seorang manajer produksi di sebuah perusahaan layanan informasi. Melalui situs, HomelessforOneWeek.com, dia coba menghimpun bantuan yang diberikan kepada 'Bank Makanan untuk New York' (www.foodbanknyc.org). Tahun lalu dia berhasil menghimpun dana lebih dari 3 ribu dolar AS untuk disumbangkan. Dan tahun ini, dia berharap bisa mengumpulkan dana hingga 5 ribu dolar AS. Dana itu diberikannya melalui koalisi para tuna wisma di New York (www.coalitionforthehomeless.org) yang mengelola program tersebut.

Maria Brosnahan, Direktur Eksekutif Koalisi untuk Tunawisma, memuji upaya Ramelize. ''Sangat mudah untuk menjadi terbiasa dengan penderitaan orang gelandangan di jalan-jalan kami. Semua orang di koalisi kagum pada empati Yusuf serta keberaniannya dalam membantu tuna wisma di New York,'' ujar Brosnahan.

''Kami memiliki catatan tuna wisma di New York City, dan Ramelize telah mengambil langkah ekstra, untuk meninggalkan kehidupan sehari-harinya yang nyaman, untuk turun ke jalanaan ikut merasakan penderitaan''

Pria asal Trinidad dan Tobago ini tahun lalu selama sepekan tidur di stasiun kereta bawah tanah karena cuaca dingin dan bersalju. Tahun ini mulai 15 sampai 21 Agustus 2010, dia tinggal di Union Square Park, Manhattan, karena cuaca yang lebih hangat. Akibat guncangan  ekonomi, jumlah tuna wisma di New York terus bertambah. Menurut Koalisi, pada 2009, jumlah tuna wisma yang masuk sistem penampungan di kota itu berjumlah 120 ribu orang.

Republika.co.id

Ilmuwan Indonesia di Balik Nobel 2007

Daniel berada di belakang layar anugerah Nobel untuk IPCC -- yang berbagi dengan Al Gore.
Senin, 16 Agustus 2010, 12:20 WIB
Profesor Daniel Murdiyarso (iisd.ca)
 
VIVAnews –  Senin, 10 Desember 2007 di Balai Kota Oslo, Norwegia ribuan pasang mata terpaku pada dua sosok, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat, Albert Arnold Gore Jr alias Al Gore dan Ketua Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Rajendra Pachauri.

Malam itu mereka berbagi penghargaan Nobel Perdamaian. Baik Al Gore maupun IPCC dielu-elukan sebagai ‘pahlawan iklim’.
Anugerah prestisius untuk IPCC tidak lepas dari peran seorang ilmuwan Indonesia, Profesor Daniel Murdiyarso, peneliti senior  di Center for International Forestry  Research (CIFOR) Bogor.  Dia punya peran penting, mereview Assessment Report IV (AR4) 2007 – yang berujung pada Nobel.

Meski begitu, Daniel merasa tak berhak untuk sombong. Dia justru mengarahkan pujian untuknya – ke sekitar 3.000 ilmuwan lain yang tergabung dalam IPCC.

 “Ketika mendengar soal penghargaan itu, reaksi saya sederhana – itu kan award pada institusi dan kegiatan IPCC kan dikerjakan banyak orang,” kata Daniel kepada VIVAnews.

Meski tak bisa dinafikan, ia adalah bagian dari tim yang dianugerahi Nobel. “Saya bersyukur, saya bangga jadi bagian kerja kolektif itu,” tambah dia.

Seperti dimuat situs CIFOR, Murdiyanto melihat Nobel sebagai momentum membangkitkan kepedulian masyarakat terkait isu pemanasan global. Juga menjadi inspirasi bagi orang untuk tak hanya diam, tapi berbuat sesuatu.

Memang, tak sedikit orang yang anti-pemanasan global. Mereka menganggap bahwa pemanasan global merupakan proses yang alami.

Dijelaskan Daniel, pemanasan global memang terjadi sejak zaman purba, secara gradual. Bumi membutuhkan suhu lebih panas agar bisa dihuni mahluk hidup.

Permasalahannya, pasca revolusi industri, emisi gas yang dilepaskan ke atmosfer lebih besar dan pemanasan Bumi makin tak terkendali. Oleh karena itu, emisi harus dikurangi.

“Jika dibiarkan terus, dalam waktu 100 tahun, suhu Bumi akan meningkat 4 derajat. Wilayah pinggir pantai terancam tenggelam.”

”Karena kejadiannya gradual orang tidak menyangka meningkat terus, makin parah, barulah orang kaget,” kata Daniel.
Sementara efek dari pemanasan ekstrim  lebih parah lagi. Pemanasan global diduga kuat berada di balik  gelombang panas di sejumlah negara.

Di Jepang, hawa panas telah menelan korban jiwa sebanyak 66 orang dan membuat 15 ribu orang harus dirawat di rumah sakit. Korban terbesar adalah lansia.

Dampak di Rusia lebih parah. Gelombang panas  menyebabkan kebakaran hutan hebat. Tak hanya menewaskan puluhan orang dan membuat perekonomian rugi US$ 15 miliar. Kebakaran juga mengancam  membangkitkan partikel radioaktif yang tersisa dari wilayah bencana nuklir Chernobyl 1986, ke atmosfer.

Pemanasan global juga diduga ada di balik tragedi banjir China dan Pakistan yang menewaskan ribuan jiwa.

“Kejadian di Moskow misalnya, adalah kombinasi dari pemanasan gradual dan ekstrim. Peningkatan yang mendadak tinggi akan menimbulkan stres terutama lansia.

Pemanasan global yang tak terkendali juga berpotensi membuat manusia kelaparan.  Baru-baru ini Badan Urusan Pangan dan Pertanian PBB atau FAO memperingatkan pemanasan global akan memangkas ketersediaan pangan, terutama beras. Sebab, makin panas suhu, makin rendah vertilitas atau kesuburan tanaman.

 “Kalau suhu terlalu tinggi, bunganya tak bisa dibuahi, hasil menurun,” tambah Daniel

Kata Daniel, ini saatnya kita bergerak.  Penting bagi manusia untuk beradaptasi dengan perubahan suhu sekecil apapun, melakukan mitigasi, serta mengurangi penyebab pemanasan global.

Banyak upaya yang bisa dilakukan manusia, salah satunya mengurangi emisi deforestasi, emisi dari industri, dan melakukan penghematan energi, baik listrik maupun BBM.

Hutan rusak parah sejak Orde Baru
Hutan Indonesia punya peran penting dalam kampanye global melawan perubahan iklim. Sebagai orang yang berkecimpung di bidang kehutanan, hidup Daniel didedikasikan untuk memastikan hutan di tanah air dikelola dengan baik dan berkelanjutan.

Jika tidak, kebakaran hutan-hutan di Indonesia justru akan menyumbang emisi terbesar. Kehancuran hutan tak hanya merusah lingkungan tapi juga mematikan kehidupan masyarakat sekitar hutan yang bergantung pada hutan.

Apalagi, deforestasi adalah penyebab emisi terbanyak.  “Kalau deforestasi diteruskan akan paling sedikit menyumbang 20 persen terus menerus, kalau ditingkatkan lebih dari 20 persen,” kata dia.

Hampir seluruh hutan Indonesia  telah Daniel jelajahi, bahkan sampai ke pedalaman Afrika.  “Paling besar laju kerusakan hutan ada di Asia terutama Indonesia, Amerika Latin terutama Brazil, dan Kongo di Afrika. Kelihatan besar rusaknya kalau dari awalnya bagus."

Indonesia harus mengurangi deforestasi. Tapi bukan berarti membuat hutan steril dari manusia. Menurut Daniel, hutan juga harus dimanfaatkan sesuai fungsinya.

“Meningkatkan manfaat, peranan hutan dalam arti lebih luas, memanfaatkan lebih banyak, tak hanya untuk pebisnis besar, tapi komunitas setempat yang jumlahnya jutaan orang.”

Pelestarian hutan juga bukan berarti meminggirkan masyarakat yang hidup dan bergantung dengan hutan. Keberadaan masyarakat di sekitar hutan tak pernah membebani pemerintah. Mereka juga punya social wisdom – nulai-nilai penghormatan terhadap hutan.

 “Ekosistem hutan justru terancam oleh mereka yang sangat beruntung,” kata Daniel. Bukan masyarakat adat yang merusak hutan, melainkan industri yang dimiliki orang-orang berduit.

Kondisi hutan Indonesia makin diperparah oleh para legislator – pembuat Undang Undang – yang berpikiran pendek dan tidak pro kelestarian alam.

Misalnya, “DPR menyetujui  pemekaran wilayah dan alih guna lahan. Apalagi periodenya hanya lima tahun,” kata Daniel, tertawa kecil. Para ilmuwan dan peneliti harus berdialog secara terus- menerus dengan para anggota DPR, memberikan pilihan supaya arah pembangunan benar.

Penyalahgunaan wewenang oleh pemerintah juga jadi pintu masuk  pengrusakan hutan dalam skala masif. Misalnya, soal desentralisasi kewenangan.

“Kepala daerah membuat kebijakan sendiri, terkait dengan sumber daya alam,” tambah Daniel.

Diceritakan dia, hutan Indonesia mulai akut sejak kekuasaan Orde Baru, tepatnya  tahun 1982.

“Deforestasi paling parah dengan kebijakan pembukaan hutan untuk lahan pertanian, pemukiman dengan target 32 juta hektar.”

“Sekarang sudah lewat [dari 32 juta hektar]. Dan masih jalan, ditambah dengan desentrasi, luas hutan Indonesia yang awalnya 120 juta hektar tinggal separuhnya.”

Efek dari kerusakan hutan ini tak melulu soal ekonomi. “Emisi bertambah, keanekaragaman hayati hilang, keindahan alam sirna. Itu semua tak bisa dinilai dengan uang,” kata Daniel.

Negara miskin yang boros
Mengurangi emisi bisa dilakukan dari rumah sendiri. “Ngomong ke mana-mana, pada banyak orang. Untuk prakteknya saya mulai dari rumah sendiri,”kata dia.

Rumahnya di kawasan Bogor Utara nampak asri. Dikelilingi 10 pepohonan besar  yang dikombinasikan tanaman bunga.

“Untuk mengundang datangnya kupu-kupu dan burung,” kata Daniel.  “Kita biarkan burung tinggal di sini, semut nggak disemprot [insektisida], nanti juga pergi sendiri ,” kata dia.

Juga berhemat. “Di rumah, kami mengontrol pemakaian listrik, lampu di luar tak perlu menyala terang dan dinyalakan kalau hari sudah gelap,” kata dia.

Termasuk, memilih barang-barang elektronik yang hemat energi. “Plastik tidak banyak digunakan, jika berbelanja, kami minta kardus bekas untuk membungkus belanjaan,” kata pehobi filateli dan mengumpulkan dokumen kuno itu.

Pria kelahiran Cepu 55 tahun lalu itu juga mengajak komunitas. Sebab, dia yakin kerja kolektif lebih baik dari kerja individu.

Di gereja misalnya,  “kami bikin kelompok audit lingkungan -- pemakaian listrik air, BBM, dikontrol menggunakan kartu . Lalu sama-sama berupaya mengurangi pemakaian.”

Juga disediakan drop off sampah, agar sampah busa dipilah tiap minggu. Di lingkungan, gerobak sampah organik.

Hal-hal kecil bisa dilakukan untuk menyelamatkan Bumi. Sayangnya tak semua orang punya kesadaran untuk melakukan itu.

“Masalahnya, seringkali kita menggampangkan hal-hal yang dianggap sepele, padahal penting artinya.”

Gaya hidup sebagian besar masyarakat Indonesia juga tak mendukung kelestarian alam.   “Kita ini miskin tapi boros, dan nggak sadar boros, ini parahnya,” kata Daniel.

Dicontohkan dia, ulah sebagian supir angkutan kota. “Mereka ngetem [menunggu penumpang] dengan mesin dihidupkan. “Ia tak sadar itu merugikan dirinya sendiri, tidak sehat, setorannya berkurang untuk bensin. Juga membuat macet karena berhenti sembarangan, pengendara lain ikut rugi.”

Selasa, 07 September 2010

Mengenal Al Khazin, Ahli Matematika dan Astronomi Islam

Mengenal Al Khazin, Ahli Matematika dan Astronomi Islam
Dari wilayah Marv, Khurasan, Iran, lahir seorang ahli matematika terkemuka di dunia Islam. Dia bernama Abu Ja'far Muhammad bin Muhammad Al-Husayn Al-Khurasani Al Khazin. Keahliannya dalam menyajikan rumus dan metode perhitungan untuk menguraikan soal-soal rumit begitu dikagumi dan dijadikan rujukan hingga berabad-abad kemudian.

Senin, 06 September 2010

Foto-foto Ekslusif Peninggalan Nabi Muhammad SAW

Bila kita berjauh jarak dengan sang terkasih Muhammad Rasulullah yang berbentang waktu 1.400 tahun… bila kita belum pernah melihat wajah sucinya, sementara kita menyebut namanya setiap hari, kita menghantarkan salam kepadanya setiap hari melalui shalat, shalawat-shalawat dan do’a-do’a yang kita lantunkan, kita memohon syafa’atnya untuk keselamatan kita di akhirat dari pedihnya adzab neraka, tidakkah foto-foto berikut ini mengobati kerinduan kita yang sangat dalam kepada Sang Tercinta Nabi Agung, Kekasih Allah dan sang pribadi mulia panutan alam??