Totalitas Berkarya Bersama Dakwah

Majelis Taklim Al-Kahfi

Totalitas Berkarya Bersama Dakwah

Majelis Taklim Al-Kahfi

Totalitas Berkarya Bersama Dakwah

Majelis Taklim Al-Kahfi

Jumat, 10 September 2010

Kenapa Tidak Geli Saat Gelitik Diri Sendiri?




Sebagian besar orang pasti memiliki titik-titik geli di tubuhnya yang mudah ditemukan. Tapi mengapa seseorang tidak akan merasa geli jika ia menggelitik diri sendiri?

Terdapat banyak titik di tubuh yang bisa menjadi tempat untuk merangsang geli dan membuat orang tertawa, seperti di lutut, bagian belakang leher, ketiak, pinggang dan telapak kaki. Tawa yang timbul saat orang lain menggelitik merupakan suatu reaksi alami.

Biasanya tempat yang paling geli adalah tempat yang sangat rentan terhadap serangan, setidaknya di sekitar bagian atas tubuh. Pada bagian ketiak mengandung pembuluh darah dan arteri, serta memungkinkan akses leluasa ke jantung karena tulang rusuk sangkar tidak lagi memberikan perlindungan kepada rongga dada di sekitar ketiak.

Para ilmuwan menemukan bahwa perasaan yang dialami saat orang lain menggelitik akan membuat ia menjadi panik dan merupakan salah satu pertahanan tubuh alami. Karena perasan tersebut merupakan cara memberitahu tubuh bahwa ada sesuatu di bagian tubuhnya.

Seperti dikutip dari Howstuffworks, Kamis (9/9/2010) saat orang lain menggelitik merupakan salah satu keadaan yang tidak terduga, sehingga menyebabkan seseorang merasa gelisah dan panik yang mengarah pada perasaan geli. Rasa geli tersebut akan memunculkan respons tawa yang tak terkendali. Beberapa orang ada yang mudah sekali geli yang membuatnya mulai tertawa bahkan sebelum orang lain menyentuhnya.

Lalu kenapa tidak geli saat menggelitik diri sendiri?

Sebagian besar penjelasan untuk pertanyaan ini masih belum diketahui, namun penelitian telah menunjukkan bahwa otak sudah terlatih untuk mengetahui apa yang harus dirasakannya ketika seseorang bergerak atau melakukan fungsi tertentu.

Jika seseorang ingin menggelitik diri sendiri, maka otak sudah mengantisipasi kontak dari tangan dan telah mempersiapkan kondisi tersebut. Dengan mengontrol rasa kegelisahan dan kepanikan, maka tubuh tidak lagi merespons hal yang sama ketika ia menggelitik dirinya sendiri.

Peneliti dari University College London telah menemukan bahwa otak kecil (cerebellum) yang mencegah seseorang merasa geli tersebut. Otak kecil adalah daerah yang terletak di dasar otak dan memantau pergerakan seseorang, karenanya otak kecil mampu membedakan antara sensasi yang diharapkan dengan sensasi yang tak terduga.

Jika otak sudah bisa mengenali sentuhan yang akan datang, hal ini akan membuat saraf respons tidak terlalu intens. Inilah yang membuat seseorang tidak bisa mnggelitik diri sendiri.


sumber :http://health.detik.com/read/2010/09/09/160849/1438555/763/kenapa-tidak-geli-saat-gelitik-diri-sendiri?l991101755

Patahkan Blokade Gaza, Warga AS Kirim Bantuan Via Udara

Juru Bicara Solidaritas Palestina di negara Bagian California akan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza melalui jalur Udara

 
Paul Larodo, Sekjen Gerakan Solidaritas Warga Amerika Serikat untuk Palestina menyatakan, konvoi bantuan kemanusiaan untuk Gaza akan disalurkan langsung bagi warga Palestina di Jalur Gaza pada Musim Semi tahun 2011.
 
Paul Larodo yang juga Juru Bicara Solidaritas Palestina di negara Bagian California menyatakan akan mengirimkan secara langsung bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza melalui jalur Udara.
 
Paul dalam wawancara dengan Press TV mengungkapkan kelanjutan bantuan kemanusiaan melalui jalur udara, darat dan laut, seraya mengatakan, "Kini terdapat pesawat yang bisa mendarat di lahan yang sempit dan labil. Bagaimanapun bantuan kemanusiaan harus dikirimkan ke Gaza."

Di bagian lain statemennya, Sekjen Gerakan Solidaritas Warga Amerika Serikat untuk Palestina ini menilai misi kemanusiaan tersebut akan dikawal sejumlah tokoh terkemuka anti kekerasan dan berkomitmen memperjuangkan perdamaian. Hal ini memperkuat tujuan kemanusiaan gerakan kami. Dengan demikian tidak ada alasan untuk menghentikan aksi itu."

Pada Mei lalu, pasukan komando militer rezim Zionis menyerang konvoi kapal bantuan kemanusian untuk Gaza, Mavi Marmara di perairan internasional.

Sumber :Hidayatullah.com

Yunani Keluarkan Larangan Merokok!!Indonesia Jangan Mau Kalah!!

Di Eropa merokok masih tetap merupakan penyebab kasus kematian dalam jumlah besar, yang sebetulnya dapat dihindari

 
Mulai 1 September lalu merokok dilarang di semua tempat umum di Yunani, termasuk kantor-kantor, di bar atau tempat minum-minum juga di restoran. Peraturan larangan merokok yang diterapkan kali ini adalah yang terketat.
 
Banyak warga Yunani ragu apakah peraturan baru larangan merokok mulai 1 September 2010 akan ditaati. Keraguan yang beralasan, karena 1 Juli tahun lalu merokok dilarang di sejumlah tempat umum, tapi dalam pelaksanaannya terlalu banyak pengecualian. Antara lain larangan merokok tidak berlaku untuk bar dan restoran yang luasnya kurang dari 70 meter persegi, sehingga pemberlakukan peraturan itu tidak benar-benar dapat ditaati.
 
Di tengah-tengah krisis keuangan Yunani banyak pihak yang menentang pemberlakuan larangan merokok  terutama dari pemilik restoran, yang khawatir akan kehilangan pelanggan dan pendapatan.
 
Dimitris Arvanitis menjalankan usaha cafe ala Wina, Austria, di kawasan Exarchia di ibukota Yunani, Athena. Kawasan yang dikenal sebagai pusat pertemuan para kaum muda dan mahasiswa. Lebih dari 90 persen pelanggan cafe-nya perokok berat, dan itu sebabnya Arvanitis khawatir, peraturan larangan merokok akan merugikan usahanya. Menurutnya, setiap pemilik cafe seharusnya diijinkan untuk memilih peraturan merokok yang paling baik sesuai dengan usahanya.
 
Arvanitis tidak sendirian, karena 40 pemilik cafe dan restoran yang sudah terpukul akibat krisis keuangan Yunani, bergabung dalam kampanye menentang undang-undang larangan merokok itu
 
"Jika kami benar-benar melaksanakan peraturan baru itu, kami harus gulung tikar. Jadi kami memutuskan untuk menentangnya dan kami mengatakan kepada pemerintah, jika kalian mempertahankan larangan merokok yang ketat, maka kami akan menyerah. Kalian boleh mendapat lisensi usaha kami, tapi jika hal ini terjadi kalian juga harus menemukan pekerjaan bagi ratusan orang, yang saat ini bekerja untuk kami…“
 
Dalam masa krisis ekonomi argumen itu merupakan hal yang serius di Yunani, tidak ada pemerintahan yang mau menanggung risiko hilangnya sedemikian banyak lapangan kerja. Tapi di sisi lain, aksi anti merokok di Yunani juga memiliki kekuatan.
 
Panayotis Behrakis, profesor kedokteran yang sangat terpandang dan kepala Komite koordinasi gerakan anti rokok Yunani menekankan, terutama dalam masa krisis pemerintah harus menurunkan biaya publik, termasuk biaya kesehatan bagi para perokok
 
"Merokok adalah beban luar biasa bagi perekonomian kami. Lebih jauh saya dapat mengatakan bahwa hal itu salah satu penyebab krisis hutang kami saat ini, jika memperhatkan jumlah total beban biaya untuk merawat orang yang memiliki masalah kesehatan akibat merokok, diperkirakan dua juta Euro per tahunnya. Jadi jika kami serius ingin mengatasi masalah itu, kami juga harus menanggulangi masalah meningkatnya biaya kesehatan.“
 
Meskipun semua kemajuan dalam memerangi bahaya merokok, di Eropa merokok masih tetap merupakan penyebab kasus kematian dalam jumlah besar, yang sebetulnya dapat dihindari. Setiap tahunnya satu dari tujuh kasus kematian di Uni Eropa disebabkan merokok. Usia orang yang meninggal akibat merokok, rata-rata 14 tahun lebih dini, daripada orang yang tidak merokok. Selain itu 50 persen perokok meninggal sebagai dampak rokok yang dikonsumsinya. Merokok juga sama berbahayanya bagi orang yang tidak merokok atau perokok pasif. Sebuah studi jurnal kesehatan Inggris tahun 2004 mengumumkan sebuah hasil studi dampak merokok bagi perokok pasif. Menurut studi tersebut, di kalangan orang dewasa yang hidup atau memiliki pasangan perokok, meskipun dirinya sendiri tidak pernah merokok, risiko rata-rata usia kematiannya meningkat 15 persen. Diperkirakan biaya perawatan penyakit sebagai dampak  merokok, meliputi 1 sampai 1,4 persen produk domestik bruto Uni Eropa. Dengan kata lain berdasarkan data tahun 2005, setiap tahunnya 100 milyar Euro biaya kesehatan, yang dikeluarkan Uni Eropa sebagai dampak merokok.
Sumber: HIdayatullah.com

Menengok Lebaran Ala Mahasiswa Indonesia di Mesir

Acara Gema Takbir Akbar digelar untuk mengobati kerinduan di tanah air

Gema takbir telah berkumandang di seluruh dunia. Umat Islam di seluruh dunia, dengan suka dukanya tengan menyambut datangnya hari raya Idul Fitri dengan harapan dapat merasakan Ramadhan tahun depan kembali.

Banyak hal yang dilakukan umat Islam untuk menyambut datangnya Idul Fitri. Di Indonesia misalnya, budaya menyambut hari raya akbar ini sangat beragam sekali. Mulai dari tradisi pulang kampung, silaturrahim dari rumah ke rumah, takbir keliling, dan lain sebagainya.

Kemeriahan dalam menyambut datangnya lebaran Idul Fitri ini tidak saja ada di Indonesia. Bagi masyarakat Indonesia yang ada di Mesir, kemeriahan tersebut juga terasa cukup kental. Meskipun jauh dari kampung halaman, namun semangat kekeluargaan sebagai sesama Warga Negara Indonesia masih dapat menghibur diri di saat momen-momen berharga.

Dalam rangka menyambut kemeriahan Idul Fitri, masyarakat Indonesia di Mesir menggelar acara Gema Takbir Akbar pada malam lebaran, yang bertempat di bumi perkemahan Universitas Al-Azhar. Acara tersebut diadakan dalam rangka sedikit mengobati kerinduan dengan kaluarga yang jauh berada di Indonesia.

"Acara ini diadakan untuk menghidupkan suasana kampung halam Indonesia di sini," tutur ketua IKPM Cabang Kairo, organisasi penggagas acara ini, dalam sambutannya.

Sedangkan Bapak Duta Besar RI untuk Mesir, A. M. Fachir dalam sambutannya mengingatkan para mahasiswa akan esensi keberadaan mereka di sini sebagai utusan bangsa. Fachir juga menghimbau melalui acara Gema Takbir Akbar ini, agar dapat menumbuhkan semangat kebersamaan antara sesama mahasiswa, dan memberikan kontribusinya kepada negara.

Acara ini juga dimeriahkan dengan lomba takbiran antar organisasi Kekeluargaan yang ada di Mesir. Beberapa penampilan yang dipersembahkan oleh panitia juga turut memeriahkan suasana malam takbiran di tengah-tengah ratusan mahasiswa Indonesia yang menghadiri acara tersebut..

Besok harinya, Jum'at (10/9), seluruh masyarakat Indonesia yang ada di Mesir mengadakan shalat 'Id berjama'ah. Usai shalat, kegiatan dilanjutkan dengan acara silaturrahim dan ramah tamah yang diadakan oleh KBRI Cairo.
Sumber: Hidayatullah.com

Sejarah Nama "Indonesia"

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhA778yW-gerpiIhM-AFuuq6Xu9CAqPiTyqxGowtJ4HEIe98AafeCKT4pLcPJZCbgV_C1MY_JfdwzyBy1X3Su7j-HLvdho930IeNEcbdHlzr9wCue0_WuMqeK-ZM7zjaE1GLB26OlNVXutF/s720/peta_indonesia_th_1893.jpg

Pada zaman purba, kepulauan tanah air disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata.. Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.


Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa).


Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).


Pada jaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).


Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin insula berarti pulau). \

Awalnya Nusantara
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memperkenalkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata "India".

Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.


Pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Sumpah Palapa dari Gajah Mada tertulis "Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa" (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).


Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.


Sampai hari ini istilah nusantara tetap dipakai untuk menyebutkan wilayah tanah air dari Sabang sampai Merauke.

Awal Mula Nama Indonesia

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.


Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:


"... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians".


Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.


Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah "Indian Archipelago" terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.


Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:


"Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago".


Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.


Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880.


Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.


Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.


Nama indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti indisch (Hindia) oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan indonesiƫr (orang Indonesia).


sumber :http://infotemplatez.blogspot.com/2010/09/sejarah-indonesia-di-mata-dunia.html