Totalitas Berkarya Bersama Dakwah

Majelis Taklim Al-Kahfi

Totalitas Berkarya Bersama Dakwah

Majelis Taklim Al-Kahfi

Totalitas Berkarya Bersama Dakwah

Majelis Taklim Al-Kahfi

Sabtu, 11 April 2015

Perayaan Ulang Tahun itu, gimana sih....?



Bismillahirrahmanirrahim....
Ulang tahun atau hari kelahiran biasanya buat banyak orang terutama si ABG -anak baru gede (red)- menjadi sebuah moment yang sepesial banget. mulai dari suprise yang sebenernya gak terlalu ngejutin sih karena udah biasa juga tiap tahunnya. terus perayaan kecil-kecilan pake kue dan "tiup lilin", ada juga yang memperingati hari miladnya dengan tumpeng, yasinan, do'a bareng anak yatim-piatu _nah setuju banget ma cara yang terakhir ini._
ups,.. sebelum ngebahas lebih jauh tentang si tiup lilin, gimana kalo kita luhat dulu perayaan milad dalam islam.
ok digaris bawahi saja, hari raya dalam islam yang memang sudah sejak jaman Rasulullah SAW dan para sahabat hanya ada 2 perayaan. yaitu " hari raya idul Fitri dan hari raya idul Adha' ". nah timbul ni pertanyaan, terus gimana ma maulid Nabi.? pada dasarnya hari raya umat islam hanya ada 2, sedangkan yang lainnya hanya merupakan sebuah "peringatan" yang bertujuan sebagai syi'ar. jika maulid Nabi dipermasalahkan, kenapa masih banyak yang ikut-ikuta peringatan yang benar-benar menyalahi Islam (baca: valentine day, "tiup lilin").
nah lo, "tiup lilin" lagi.... ada apa sih dengan tiup lilin????
malah ada anggapan, "belum ngerayain ultah tu kalo belum tiup lilin, pake make a wish juga..."
hahaha berdo'a kok pake tiup lilin segala (astaghfirullah... kaya suatu kaum donk...)
pada masanya dulu, saat kemunculan agama nasrani., ulang tahun dijadikan budaya kaum nasrani. nah buat menunjang budayanya, mereka menambahkan simbol-simbil dan berbagai macam pernak-pernik,. termasuk kue dan lilin,,.. tu kan llilin lagi???!!!
what about lilin?? he
kuenya mereka berbentuk bulat, yang menyimbolkan bulan purnama,. dengan di hiasi lilin untuk menerangi kue tersebut agar bercahaya seperti bulan purnama. yang akan dipersembahkan oleh orang yunani kepada dewi artemis.
nah anggapan mereka, meletakkan lilin sebagai simbol keagamaan. mereka meletakkan lilin besar di tengah kue, sebagai lambang "terangnya kehidupan". ada juga anggapan bahwa "asap lilin yang mereka tiup akan membawa pengharapan mereka ke surga".
mitos yang agak agak, bilang kalo kita makan kue yang ada tulisannya happy birthday bakal dapat kebahagiaan dan pengharapannya bisa tercapai, apalagi kalo bisa meniup mati lilin-lilin itu dalam sekali tiupan, maka dia bakal dapat kebahagiaan.
so... gimana seharusnya peringatan milad dilakukan oleh umat islam??? boleh gak ya....????!!!!!
ada 2 hal tentang perayaan ulang tahun. yang menjerumus kepada perihal ibadah atau adat istiadat. jika hal tersebut ditujukan untuk ibadah maka jelas itu adalah perbuatan bid'ah.
"... hendaklah berhati-hati terhadapperkara yang diada-adakan, karena setiap yang diada-adakan itu bid'ah. dan setiap bid'ah adalah sesat." (HR Ahmad).
"sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, sejelek-jelek  urusan adalah perkara bid'ah, setiap bid'ah adalah sesat." (HR. Muslim).
kali ini, bakal lebih dibahas dari segi adat istiadatnya aja...
tetapi jika dimaksudka dengan adat istiadat saja, hal itu mengandung 2 sisi larangan.
yang pertama, menjadikan sebagai salah satu hari raya. tindakan ini berarti melakukan suatu kelancangan terhadap Allah dan Rasul-NYA. dimana kita menetapkan sebagai ied/hari raya, sedangkan Allah dan Rasul-NYA tidak pernah menetapkan sebagai hari raya. sudah jelas perayaan dalam islam yang utama, adalah iedul Fitri dan iedul Adha', dan yang terakhir adalah hari jum'at.
seperti hadis berikut : Tidak diragukan bahwa hari jum’at adalah hari raya bagi umat Islam, sebagaimana terdapat dalam hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma berkata: Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ ، فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ ، وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ (رواه ابن ماجه، 1098، وحسَّنه الألباني في "صحيح ابن ماجه
“Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk umat slam. Barangsiapa yang mendatangi (shalat) Jum’at maka hendaklah mandi (besar), kalau mempunyai wewangian hendaknya dia pakai dan pergunakan siwak.” (HR. Ibnu Majah, 1098 dan dihasankan oleh Al-Albany dalam Shahih
Ibnu Majah).
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
(HR. Ahmad & Abu Daud)
ذَلِكَوَمَنيُعَظِّمْحُرُمَاتِاللَّهِفَهُوَخَيْرٌلَّهُ عِندَرَبِّهِوَأُحِلَّتْلَكُمُالْأَنْعَامُإِلَّا مَايُتْلَىعَلَيْكُمْفَاجْتَنِبُواالرِّجْسَمِنَالْأَوْثَانِوَاجْتَنِبُواقَوْلَالزُّورِ
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, kecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta, (QS. 22:30).
yang kedua mengandung unsur tasyabbuh (meniru-niru). seperti tulisan diatas, ulang tahun ini selalu dirayakan umat nasrani. mereka merayakan dengan tiup lilin, potong kue, tepuk tangan dan bernyanyi-nyanyi kadang juga pake joget-joget segala. maukah kita merayakan ulang tahun orang-orang tercinta kita dengan meniup lilin? tukar kado? padahal itu tradisi orang-orang kafir dan bukan dari golongan kita?!!
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Masih maukah kita membiarkan anak-anak kita meniup lilin diatas kue ulangtahun dan menyuruhnya "make a wish" ? padahal yang demikian berarti kita sedang mengajarkannya dekat dengan syirik? na'udzubillah...
Firman Allah SWT:
nah kan,.. emang mau disama-samain dengan kaum-kaum non muslim?? gue sih ogah he...
terus gimana donk kalo ada keluarga, sahabat yang milad? masa mau di cuekin???
ya menurut gue (ciah gue,.. ana.red) kalo kita mau memberi hadiah kepada orang tercinta. ana rasa sah-sah aja malah sunnah loh.... but.. kudu n wajib memperbaiki niatnya.
Rasulullah bersabda, "hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscahya kalian akan saling mencintai." (Hr. Bukhari). and jangan lupa perbaiki niatnya, "sesungguhnya diterima amal perbuatan itu terbantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya."
jadi kalo mau memperingatkan hari milad, dan memohonkan keberkahan untuk sisa usianya boleh-boleh aja. asal dilakukan dengan cara yang baik. dan mengharapkan ridha Allah. misalnya, pake do'a bersama dengan anak-anak yatim-piatu, sebagai bentuk syukur kepada Allah karena diberikan usia sampai hari itu, sebagai bentuk berbagi, dan syi'ar kita kepada sesama agar senantiasa berbagi kebahagiaan. pake kue/tumpeng boleh-boleh aja _kalo bisa ya cari bentuk yang lain selain bulat_ tapi gak PERLU PAKE SI LILIN :).

ketimbang ngerayain denga hura-hura lebih baik mencari sesuatu yang insyaAllah akan di nilai ibadah oleh Allah dan memberi manfaat bagi sesama, serta mengharapkan Ridha'-NYA. Wallahualam....

Minggu, 05 April 2015

Pemuda Muslim Berkualitas, harapan Generasi Madani

Bismillahirrahmanirrahim

        Pergantian zaman dan masa adalah sunnatullah, pergantian generasi satu ke genarasi selanjutnya adalah sebuah perputaran yang takkan pernah usai hingga masanya menyentuh pada detik yang tak lagi menempati ruang dan waktu. perubahan zaman dari masa jahiliyah menuju zaman yang penuh keberkahan dan cahaya Illahi, waktu dan perjuangan yang dilakukan bukan sebuah perkara mudah. butuh perjuangan panjang, ratusan dahkan jutaan tetes keringat dan darah yang mewarnai perjalanannya. perjuangan yang tak mengenal letih dan lelah. sebuah jalan panjang yang senantiasa mengitari peredaran planet-planet dalam galaksi yang sama, beriringan dalam orbit yang tak terelakan, menempati ruang kehampaan dan selalu berjalan sesuai dengan takdir yang telah digariskan Sang Pencipta.

        Perjalanan panjang, yang mengukir sejarah manis dan begitu indah, hingga akhir zaman kelak. sejarah perjuangan yang tak lekang oleh masa, tak usang oleh panas mentari dan tak lapuk dengan hujan dan kikisan udara.

      Nyatanya perubahan zaman, membawa seorang "pemuda" yang lebih dari sekedar pemuda, seorang "kekasih" yang lebih dari kekasih, seorang "utusan" yang jua lebih dari utusan.. ya.... Rasulullah SAW, _Khalilullah_ kekasih Allah. cermin dan teladan bagi para pemuda muslim. tokoh yang menjadi pelantara lahirnya sebuah zaman dalam kedamaian, zaman yang jauh dari sebuah ketidak adilan dan kejahiliyahan. sosok sempurna sebagai seorang pemimpin, sahabat, teladan, idola, suami, bahkan sosok musuh yang di segani.

        Pemuda,.... ya pemuda yang menjadi biangnya dari sebuah perubahan. jika ribuan tahun yang lalu Allah menghadirkan sosok istimewa yang menjadi teladan umat manusia, dengan ditemani sosok-sosok terbaik yang pernah ada. sayidina Abu bakar As-sidhiq yang begitu menjaga kehormatan diri, senantiasa berkata jujur dan benar dan cintanya kepada Rasulullah SAW yang teramat, Umar ibnu Khattab yang nampak begitu tegas bahkan setan pun tidak berani berhadapan dengannya, namun ia sosok pemimpin yang sangat memperdulikan kesejahteraan rakyatnya, Utsman bin Affan yang telah Allah anugrahkan rasa malu yang sungguh besar, hingga Rasulullah SAW pun merasa malu terhadapnya terlebih para sahabat, lalu Ali bin Abi thalib  yang memiliki kecerdasan luar biasa, dan sahabat ke 5 Thalhah bin Ubaidillah seorang sahabat yang sungguh kecintaannya terhadap Allah, Islam dan Rasulullah tak diragukan lagi, bahkan Allah menganugrahkan 2 buah sayap sebagai pengganti tangannya yang putus dalam perang uhud.
        
        Pemuda sosok yang menjadi tonggak awal perubahan, sejarah telah mengukir pemuda-pemuda islam dengan tinta emas dalam secari kertas putih. lalu bagaimana peran pemuda di negeri ini???
pemuda muslim berkualitas sungguh di nantikan dalam regenerasi masa menuju peradaban yang lebih baik dari saat ini, peradaban yang madani dalam segala segi, terutama dalam mencari ridha Allah.

         Bahkan seorang bung karno mendeglarasikan semangat bagi para pemuda "beri aku 10 pemuda, dan aku akan mampu memindahkan sebuah gunung. dan berikan aku 100 pemuda maka aku dapat menggoncangkan dunia." ayo bangkitlah saudaraku,.. bangkitlah pemuda/pemudi islam. songsong kejayaan islam, raih masa depan gemilang. dunia ini ada ditangan kita. jika bukan kita, yang meneruskan perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat/sahabiyah siapa lagi?? bangkit pemuda islam, raih kejayaan islam. bayar rindumu akan Kasih dan Ridho' Allah, berjuanglah,... berjuanglah. Allahuakbar..... Allaahuakbar..... Alllaaaahuakbaar.....!!!!

Selasa, 17 Februari 2015

Seikat bunga dan sepotong coklat... atau Seperangkat Alat Sholat?!


HARI GINI MASIH PACARAN? MASIH MODAL SEIKAT BUNGA SEPOTONG COKLAT?? IUKH,... AKHI,... DIGANTI KEK,.. udah gak zamannya akhi,.. masa iya antum mau stay dengan begituan doang?? sekali-kali kek modalnya diganti yang kerenan dikit,.. SEPERANGKAT ALAT SHALAT DAN AL-QUR'ANDIBAYAR TUNAI... Aduh antum ini masa gitu aja harus diajarin hems hems...
#Pacaran, sepertinya telah dinobatkan oleh remaja saat ini sebagai satu-satunya ekspresi cinta kepada lawan jenis. Otomatis ikatan baku syahwat ini sedikit banyak mempengaruhi jalinan persahabatan cewek-cowok. Makin sulit ditemukan hubungan dekat remaja-remaji yang murni pertemanan. Selaluuu aja ada benih-benih cinta di hati yang tersemai tanpa mereka sadari. Nggak heran kalo banyak remaja yang terprovokasi oleh komplotan Project Pop dan Chrisye dalam hits terbaru mereka, ‘burkat’ Buruan deh katakan…. Makanya Yovie dan Nuno juga nggak tahan untuk bilang, ‘inginku…tidak hanya jadi temanmu…ataupun sekadar sahabat’. Pengenya jadi apa dong... astaga antum masih ngajakin pacaran? Astaghfirullah.... KUNO akhi,.. selain KUNO juga,.. DOSAnya gak bisa ditawar kayanya...
Pacar. Yup, status pacar yang banyak diburu kaum jomblo sebagai simbol kemenangan dan kebanggaan. Begitu pentingnya status ini hingga dijadikan ‘mata pelajaran’ rutin oleh media massa bagi para pemirsanya. Walhasil, para pelajar berseragam putih biru donker pun menjadikan tempat belajarnya sebagai Sekolah Mencari Pacar (SMP). Parah tenan iki!

Sobat, banyak remaja yang ngerasa kalo jadi pacar atau punya pacar bikin hidup terasa lebih indah. Katanya sih, mereka udah nemuin soulmate alias belahan jiwanya. Seseorang yang memanjakan perasaan cintanya; yang menjaga dan melindunginya; yang begitu perhatian dan peduli padanya; yang menyediakan a shoulder to cry on; yang mengulurkan tangannya saat salah satunya down; hingga rela berkorban untuk memenuhi permintaan sang buah hati. Pokoknya romantis abis!

Selanjutnya, hari-hari mereka lalui dengan kebersamaan. Acara jalan bareng sambil gandengan tangan atau mojok berdua untuk saling bertukar cerita jadi menu wajib. Di kampus, sekolah, mal, halte, bioskop, atau di bawah guyuran hujan nggak masalah. Kalo nggak bisa jalan bareng, minimal mengobral kata-kata cinta via SMS. Inilah penyakit orang kasmaran. Enggan berpisah walau sesaat. Bawaannya kangen mulu. Padahal doinya cuma permisi ke toilet. Waduh!

Tapi sobat, apa bener pacaran itu selamanya indah?

Banyak rugi di balik pacaran

Kalo diperhatiin sekilas, bisa jadi orang mengganggap pacaran itu nggak ada ruginya. Padahal, banyak juga lho ruginya. Makanya jangan cuma sekilas merhatiinnya. Nggak percaya? Simak deh poin-poin berikut:

1. Rugi waktu

Sobat, coba kamu iseng-iseng nanya ke temen yang pacaran, berapa banyak waktu yang dia berikan untuk pacarnya? A. satu jam B. dua jam C. satu hari D. satu minggu (kayak soal ujian aja pake multiple choice). Jawabannya: nggak ada yang cocok! Sebab ketika ikatan cinta di antara mereka diucapkan, masing-masing kudu terima konsekuensi untuk ngasih perhatian lebih buat sang pacar. Itu berarti, harus stand by alias siap setiap saat jika diperlukan doi (sopir taksi kaleee!). Ini yang bikin repot.

Gimana nggak, waktu yang kita punya nggak cuma buat ngurusin sang pacar. Emang sih teorinya nggak seekstrim itu. Biasanya mereka mencoba saling mengerti kalo kekasihnya juga punya kepentingan lain. Tapi kalo masing-masing minta dimengerti, bisa-bisa muncul sikap egois. Merasa dirinya paling penting dan paling berhak untuk diperhatikan. Ending-nya, teori dan praktek sangat jauh panggang dari api. Tetep aja mereka terpaksa ngorbanin waktu untuk sekolah, kantor, keluarga, atau teman sebaya biar doi nggak ngambek. Kalo sudah begini, demi mempertahankan pacaran, urusan lain bisa berantakan. Betul?

2. Rugi pikiran

Sehebat-hebatnya manusia mengelola alokasi pikiran dan perhatian untuk ngurusin hidupnya, belum tentu dia mampu mengendalikan rasa cintanya. Asli. Ketika kita jatuh cinta, nggak gampang kita mikirin urusan laen. Semua pikiran kita selalu mengerucut pada satu objek: Pacar. Mau ngapain aja selalu teringat padanya. Seperti kata Evi Tamala, ‘mau makan teringat padamu…. mau tidur teringat padamu…lihat cheetah teringat padamu….’ Ups! Sorry, jangan ngerasa di puji ya. Gubrak!

Nggak heran kalo sitaan pikiran yang begitu besar dalam berpacaran bisa bikin prestasi belajar menurun. Itu juga bagi yang berprestasi. Bagi yang nilainya pas-pasan, bisa-bisa kebakaran tuh nilai rapot. Mereka sulit berkonsentrasi. Meski jasadnya ada dalam kelas belum tentu pikirannya nangkep penjelasan dari guru. Yang ada, pikirannya tengah melanglang buana ke negeri khayalan bersama sang permaisuri pujaan hati. Dan nggak akan sadar sebelum spidol atau penghapus whiteboard mendarat dengan sukses di jidatnya.

3. Terbiasa nggak jujur

Lucu. Kalo kita ngeliat perilaku standar remaja yang lagi kasmaran. Di rumah dia uring-uringan karena sakit perut (tapi bukan diare lho), tapi akibat makan cabe tapi lupa makan goreng bakwannya karena saking asyiknya nonton Dora the Explorer. Sang ibu pun terpaksa telpon ke sekolah untuk minta izin. Menjelang siang, tiba-tiba pacar telpon. Nanyain kabar karena khawatir. Terus dia bilang, ‘sayang ya kamu nggak sekolah. Padahal nanti siang aku minta di antar ke toko buku terus hadirin undangan temenku yang ulang tahun di KFC…’

Tak lama berselang, keajaiban terjadi. Tiba-tiba sakitnya sembuh dan siap nganterin doi. Padahal sebelum ditelpon pacarnya, sang ibu minta tolong dibeliin minyak tanah di warung sebelah rumah, jawabnya: ‘nggak kuat jalan Bu. Kan lagi sakit’.

Ini baru contoh kecil. Seringkali orang yang pacaran secara otomatis berbohong, agar terlihat baik bin perfect di mata pacar.

4. Tekor materi

Sobat, dalam berpacaran, keberadaan materi sangat menentukan mati hidupnya itu hubungan. Meski ngakunya nggak begitu mentingin materi, tetep aja kalo nraktir bakso di kantin sekolah atau nonton hemat di twenty one kudu pake duit.

Yang bikin runyam, kebanyakan dari remaja yang berpacaran perekonomiannya sangat tergantung dengan jatah yang dikasih ortu. Pas lagi ada duit, jatah uang saku sebulan ludes dalam hitungan jam di malam minggu pertama setiap bulan. Kalo lagi nggak punya duit sementara pacar ngajak jalan, bisa nekat mereka. Nilep uang SPP atau terlibat aksi kriminal. Repot kan?

Nah sobat, ternyata pacaran tak selamanya indah. Ada juga ruginya. Banyak malah. Rasanya nggak sebanding dong kalo kita harus kehilangan waktu luang, prestasi belajar, teman sebaya atau kedekatan dengan keluarga, karena waktu, pikiran, tenaga, dan materi yang kita punya, banyak dialokasikan untuk sang pacar. Belum lagi dosa yang kita tabung selama berpacaran. Padahal pacar sendiri belum tentu bisa mengembalikan semua yang kita korbankan ketika kita kena PHK alias Putus Hubungan Kekasih. Apalagi ngasih jaminan kita selamat di akhirat. Nggak ada banget tuh. Rugi kan? Pasti, gitu lho!

Pacaran, dilarang masuk!

Sobat muda muslim, meski dalam al-Quran tidak terdapat dalil yang jelas-jelas melarang pacaran, bukan berarti aktivitas baku syahwat itu diperbolehkan. Pacaran di-black list dari perilaku seorang muslim karena aktivitasnya, bukan istilahnya.

Orang pacaran pasti berdua-duaan. Padahal mereka bukan mahram atau suami-istri. Yang kayak gini yang dilarang Rasul dalam sabdanya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak boleh baginya berkhalwat (bedua-duaan) dengan seorang wanita, sedangkan wanita itu tidak bersama mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiga di antara mereka adalah setan” (HR Ahmad)

Kehadiran pihak ketiga alias setan sering dicuekin oleh orang yang lagi pacaran. Padahal bisikannya bisa bikin mereka gelap mata bin lupa diri. Cinta suci yang diikrarkan lambat laun ber-metamorfosis menjadi cinta birahi. Ujung-ujungnya mereka akan dengan mudah terhanyut dalam aktivitas KNPI alias Kissing, Necking, Petting, sampe Intercousing. Dari sekadar ciuman hingga hubungan badan. Naudzubillah min dzalik! Makanya Allah Swt. telah mengingatkan dalam firmanNya:

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. (QS al-Isrâ [17]: 32)

Kalo masih ngeyel dengan peringatan Allah Swt. di atas, dijamin kesengsaraan bakal menimpa kita. Banyak kok fakta yang berbicara kalo gaya pacaran sekarang lebih didominasi oleh penyaluran hasrat seksual. Akibatnya, secara tidak langsung pacaran turut membidani lahirnya masalah aborsi, prostitusi, hingga penyebaran penyakit menular seksual. Karena itu, pacaran dilarang masuk dalam keseharian seorang muslim. Akur? Kudu!

Agar cinta nggak bikin sengsara

Sobat muda muslim, perlu dicatet kalo Islam melarang pacaran bukan berarti memasung rasa cinta kepada lawan jenis. Justeru Islam memuliakan rasa cinta itu jika penyalurannya tepat pada sasaran. Sebab Allah menciptakan rasa itu pada diri manusia dalam rangka melestarikan jenisnya dengan kejelasan nasab alias garis keturunan. Karena itu hanya satu penyaluran yang diridhoi Allah, dicontohkan Rasulullah, dan pastinya tepat pada sasaran. Yaitu melalui pernikahan. Rasulullah saw bersabda: “Wahai sekalian pemuda, barang siapa yang sudah mempunyai bekal untuk menikah, menikahlah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat memejamkan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa yang belum mempunyai bekal untuk menikah, berpuasalah, karena puasa itu sebagai benteng baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Untuk mengendalikan rasa cinta pada diri manusia, Islam juga punya aturan maen yang meminimalisasi fakto-faktor pembangkit rasa itu. Secara umum, interaksi antara pria dan wanita dalam Islam hanya diperbolehkan dalam aktivitas yang mengharuskan kerjasama di antara mereka. Seperti ketika jual beli di pasar, berobat ke dokter, belajar di sekolah atau kampus, bekerja di kantor, dsb. Dengan catatan, ketika aktivitas di atas selesai, maka masing-masing kudu kembali kepada habitatnya. Nggak pake acara curi-curi kesempatan berduaan sehabis sekolah bubar, mau pergi ke pasar, atau pas berangkat kerja.

Kalo pas lagi ada keperluan mendesak dengan lawan jenis, kita bisa ajak teman biar nggak berduaan. Selain itu, kita juga diwajibkan menjaga pandangan biar nggak jelalatan ketika bertemu dengan lawan jenis. Sebab jika pandangan kita terkunci, sulit mengalihkannya. Seperti kata A. Rafiq, ‘lirikan matamu…. menarik hati…’ (dangdut terus neh! Tadi Evi Tamala. Hihihi..)

Nggak ketinggalan, Islam juga mewajibkan muslimahnya untuk menutup aurat secara sempurna dan menjaga suaranya agar tidak mendesah bin mendayu-dayu ketika berkomunikasi dengan lawan jenisnya. Sebab bisa memancing lawan jenis untuk berinteraksi lebih jauh.Wah, di sinilah perlu jaga-jaga ya.

Sobat muda muslim, selain dosa, ternyata pacaran juga banyak ruginya. Makanya kalo virus merah jambu mulai meradang di hatimu, cuma ada satu solusi jitu: merit binti menikah. Nggak papa kok masih muda juga. Tapi kalo ngerasa belum mampu, kamu bisa rajin-rajin berpuasa untuk meredam gejolak nafsu. Dan tentunya sambil terus belajar, mengasah kemampuan, dan mengenali Islam lebih dalam, jangan lupa perbanyak kegiatan positif: ngaji dan olahraga, misalnya. Moga kita sukses di dunia dan di akhirat ya. Mau kan? Mau doooong! Siip.. dah! [hafidz]

 Dengan sedikit tambahan


INI NIH ALASAN RAMAJA ENGGAN BERHIJAB


Berikut beberapa alasan anak muda yang enggan berjilbab dan sanggahan halusnya. Semoga yang belum berjilbab mendapat hidayah.
Alasan yang paling banter, 
berhijab bikin kita gak gaul, susah dapet pacar.
#pacar! emang kamu bakal hidup cuma buat gaul? cuma buat dapet pacar? bukannya seenggak baik enggak baiknya cowo, cowo juga bakal nyari istri yang sholehah. pacar mah cuma buat iseng. emang kamu mau terus2an diisengin? ENGGAK KAN?!
1. Saya nggak mau jilbaban! Jilbaban itu kuno | “Lha, itu zaman flinstones, lebih kuno lagi, nggak pake jilbab”
2. Tapi kan itu hal kecil, kenapa jilbaban harus dipermasalahin?! | “Yang besar2 itu semua awalnya dari perkara kecil yang diremehkan”
3. Yang penting kan hatinya baik, bukan lihat dari jilbabnya, fisiknya! | “trus ngapain salonan tiap minggu? make-upan? itu kan fisik? Dan Islam meyakini bahwa iman itu bukan hanya perkara hati, namun juga ditunjukkan dalam fisik atau amalan lahiriyah. Hati pun cerminan dari lahiriyah. Jika lahiriyah rusak, maka demikianlah hatinya”
4. Jilbaban belum tentu baik | “Betul, yang jilbaban aja belum tentu baik, apalagi yang … (isi sendiri)”
5. Saya kemarin lihat ada yang jilbaban nyuri! | “So what? yang nggak jilbaban juga banyak yang nyuri, gak korelasi kali”
6. Artinya lebih baik jilbabin hati dulu, buat hati baik! | “Yup, ciri hati yang baik adalah jilbabin kepala dan tutup aurat”
7. Kalo jilbaban masih maksiat gimana? dosa kan? | “Kalo nggak jilbaban dan maksiat dosanya malah 2. Malah nggak jilbaban itu dosa besar. ″
8. Jilbaban itu buat aku nggak bebas! | “Oh, berarti lipstick, sanggul, dan ke salon itu membebaskan ya?”
9. Aku nggak mau dibilang fanatik dan ekstrimis! | “Nah, sekarang kau sudah fanatik pada sekuler dan ekstrim tidak mau taat”
10. Kalo aku pake jilbab, nggak ada yang mau sama aku!? | “Banyak yang jilbaban dan mereka nikah kok”
11. Kalo calon suamiku gak suka gimana? | “Berarti dia tak layak, bila didepanmu dia tak taat Allah, siapa menjamin dibelakangmu dia jujur? Dan ingatlah al khobitsaatu lil khobitsiin, perempuan rusak ditakdirkan dengan lelaki yang sama. Demikian sebaliknya.”
12. Susah cari kerja kalo pake jilbab! | “Lalu enggan taat pada perintah Allah demi kerja? emang yang kasih rizki siapa sih? Bos atau Allah? Dan asalnya wanita itu berdiam di rumah: wa qorna fii buyutikunna (menetaplah kalian di rumah-rumah kalian)”
13. Ngapa sih agama cuma diliat dari jilbab dan jilbab? | “Sama aja kayak sekulerisme melihat wanita hanya dari paras dan lekuk tubuh”
14. Aku nggak mau diperbudak pakaian arab! | “Ini simbol ketaatan pada Allah, justru orang arab dulu (di zaman jahiliyah) gak pake jilbab. Syari’at jilbab ini untuk seluruh wanita, bukan hanya Arab sebagaimana ditegaskan dalam surat Al Ahzab ayat 59: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“.”
15. Jilbab cuma akal2an lelaki menindas wanita | “Perasaan yang adain miss universe laki2 deh, yang larang jilbab di prancis jg laki2″
16. Aku nggak mau dikendalikan orang tentang apa yang harus aku pake! | “Sayangnya sudah begitu, tv, majalah, sinetron, kendalikan fashionmu”
17. Jilbab kan bikin panas, pusing, ketombean | “Jutaan orang pake jilbab, nggak ada keluhan begitu, mitos aja”
18. Apa nanti kata orang kalo aku pake jilbab?! | “Katanya tadi jadi diri sendiri, nggak peduli kata orang laen…”
19. Jilbab kan nggak gaul?! | “Lha mbak ini mau gaul atau mau menaati Allah?”
20. Aku belum pengalaman pake jilbab! | “Pake jilbab itu kayak nikah, pengalaman tidak diperlukan, keyakinan akan nyusul”
21. Aku belum siap pake jilbab | “Kematian juga nggak akan tanya kamu siap atau belum dear”
22. Mamaku bilang jangan terlalu fanatik! | “Bilang ke mama dengan lembut dan santun, bahwa cintamu padanya dengan menaati Allah penciptanya”
23. Aku kan gak bebas ke mana-mana, gak bisa nongkrong, clubbing, gosip, kan malu sama baju! |“Bukankah itu perubahan baik?”
24. Itu kan nggak wajib dalam Islam!? | “Kalo nggak wajib, ngapain Rasul perintahin semua wanita Muslim nutup aurat?”
25. Kasi aku waktu supaya aku yakin jilbaban dulu | “Yakin itu akan diberikan Allah kalo kita sudah mau mendekat, yakin deh”.
Nah wahai saudariku muslimah, tunggu apalagi?
Mengenai kewajiban berjilbab sudah ditetapkan dalam Al Qur’an yang tiap hari kit abaca, di mana Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59). Ayat ini menunjukkan wajibnya jilbab bagi seluruh wanita muslimah.
Ayat lain yang menunjukkan wajibnya jilbab,
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ …
“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, …” (QS. An Nur: 31).
Dalil yang menunjukkan wajibnya jilbab juga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْحُيَّضَ يَوْمَ الْعِيدَيْنِ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ ، فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَدَعْوَتَهُمْ ، وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ عَنْ مُصَلاَّهُنَّ . قَالَتِ امْرَأَةٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِحْدَانَا لَيْسَ لَهَا جِلْبَابٌ . قَالَ « لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا »
Dari Ummu ‘Athiyyah, ia berkata, “Pada dua hari raya, kami diperintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita haid dan gadis-gadis pingitan untuk menghadiri jamaah kaum muslimin dan doa mereka. Tetapi wanita-wanita haid harus menjauhi tempat shalat mereka. Seorang wanita bertanya:, “Wahai Rasulullah, seorang wanita di antara kami tidak memiliki jilbab (bolehkan dia keluar)?” Beliau menjawab, “Hendaklah kawannya meminjamkan jilbabnya untuk dipakai wanita tersebut.” (HR. Bukhari no. 351 dan Muslim no. 890)
Dalam Lisanul ‘Arob, jilbab adalah pakaian yang lebar yang lebih luas dari khimar (kerudung) berbeda dengan selendang (rida’) dipakai perempuan untuk menutupi kepala dan dadanya.[1] Jadi kalau kita melihat dari istilah bahasa itu sendiri, jilbab adalah seperti mantel karena menutupi kepala dan dada sekaligus.
Semoga Allah beri hidayah demi hidayah bagi yang belum berjilbab.
www.remajaislam.com

Rabu, 14 Januari 2015

SIFAT MUSLIM YANG SEMPURNA

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ , و المهاجِرَ مَنْ هَجَرَ مَا نهَى اللهُ عَنْهُ
“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40 )
Dan dalam riwayat Tirmidzi dan An Nasa’i,
و المؤمن من أمنة الناس على دمائهم و أموالهم
“Seorang mu’min (yang sempurna) yaitu orang yang manusia merasa aman darah mereka dan harta mereka dari gangguannya.”
Dan tambahan dalam riwayat lain,
و المجاهد من جاهد نفسه في طاعة الله
“Dan yang disebut dengan orang yang berjihad adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah .”
Hadis di atas menjelaskan tentang beberapa istilah yang ditetapkan  oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai sebagai kunci kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu Islam, Iman, hijrah dan jihad
Dan disebutkan pula batasan-batasannya dengan menggunkan kalimat yang ringkas namun sarat makna. Seorang muslim yang sempurna adalah jika orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.
Oleh karena itulah hakikat islam adalah menyerahkan diri kepada Allah, menyempurnakan ibadah hanya kepadaNya dan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama muslim lain. Dan tidak akan sempurna islam seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya. Hal ini tidaklah terrealisasi kecuali dengan selamatnya saudaranya dari kejelekan lisannya dan jeleknya perbuatan tangannya. Karena hal ini merupakan kewajiban dasar seorang muslim terhadap saudaranya sesama muslim. Jika saudaranya saja tidak bisa selamat dari gangguan  lisan dan tangannya, bagaimana mungkin dia bisa melaksanakan kewajibannya terhadap saudaranya sesama muslim? Selamatnya saudara-saudaranya dari keburukan perkataan dan perbuatannya, merupakan salah satu tanda sempurnanya keislaman seseorang.
Dalam hadits yang telah disebutkan di awal, Rasulullah menjelaskan bahwa seseorang yang mempunyai iman yang sempurna ialah jika manusia merasa aman dari gangguannya. Karena sesungguhnya iman, jika ia telah tinggal di dalam hati dan memenuhinya, maka ia akan mendorong pemiliknya untuk melaksanakan hak-hak iman. Di antara hak-hak iman yang paling penting adalah: Menjaga amanah, jujur dalam bermuamalah, dan menahan diri dari berbuat dholim terhadap manusia dalam perkara darah dan harta mereka. Jika dia telah melaksankan hal-hal tersebut, maka dengan hal itulah orang-orang akan mengenal kebaikan-kebaikannya tersebut, sehingga mereka pun akan merasa aman (karena merasa tidak akan di ganggu) darah dan harta mereka. Dan orang-orang pun akan percaya terhadapnya karena mereka tahu bahwa dia adalah orang yang menjaga amanah, karena menjaga amanah adalah termasuk dari kewajiban keimanan yang paling penting. Sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
لَا إِيْمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ
“Tidaklah sempurna iman seseorang yang tidak menjaga amanah .” (HR. Ahmad 3/135, Ibnu Hibban 194. Dishahihkan oleh syaikh Al Albani dalam shahiihul jaami ’)
Begitu pentingnya seorang muslim mempunyai sifat menjaga amanah hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyebutkan bahwa iman seseorang tidaklah sempurna hingga ia menjadi seseorang yang menjaga amanah.
Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam punmenjelaskan dalam hadits di atas bahwa hijrah yang menjadi kewajiban bagi setiap individu kaum muslimin adalah hijrah meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat, dan kewajiban ini tidaklah gugur bagi tiap mukallaf (orang yang baligh dan berakal) bagaimanapun keadaannya. Karena Allah Ta’ala telah melarang para hambanya melakukan perbuatan-perbuatan haram dan perbuatan maksiat. Adapun hijrah secara khusus adalah seseorang berpindah dari suatu negri kafir atau negri yang penuh dengan perbuatan bid’ah menuju negri islam. Hijrah ini tidak wajib bagi semua individu, akan tetapi hukumnya berbeda-beda bagi setiap orang sesuai keadaannya.
Kemudian dalam hadits tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hakikat orang yang berjihad, yaitu orang yang berjuang melawan dirinya untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Karena sesungguhnya jiwa manusia seringkali merasa malas untuk melakukan ketaatan, memerintahkan kepada perbuatan buruk, dan cepat mengeluh ketika mendapat musibah. Oleh karena itulah seseorang butuh kesungguhan untuk melawan nafsunya agar dia dapat kokoh di atas ketaatan kepada Allah Ta’ala, agar dia bisa bersabar ketika mendapatkan musibah. Maka inilah bentuk ketaatan yang sesungguhnya, yaitu seseorang bersungguh-sungguh melaksanakan perintah, bersungguh-sungguh menjauhi larangan dan bersabar atas takdir yang menimpanya.
Siapa saja yang mengamalkan hadits di atas maka dia telah mengamalkan perkara agama semuanya.  Karena hadits tersebut menyebutkan bahwa seorang muslim yang sejati adalah orang yang muslim lain selamat dari lisannya, orang yang manusia merasa aman darah dan harta mereka darinya, orang yang meninggalkan perkara yang Allah larang, orang yang bersungguh-sungguh berjuang melawan dirinya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah. Baginya, tidak ada kebaikan dalam perkara agama maupun perkara dunia, baik lahir maupun batin kecuali dia akan melaksanakannya, dan tidak ada keburukan kecuali pasti dia akan meninggalkannya.
Semoga Allah Ta’ala memberikan kita Taufik untuk dapat mengamalkan hadits di atas. Hanya Allah-lah sebaik-baik pemberi Taufik.
***
Artikel muslimah.or.id
Penulis: Wakhidatul Latifah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits
Referensi:
Diringkas dari kitab Bahjatu Quluubil Abraar karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy cetakan Daaru ‘Umar Ibnul Khattab pada bab shifaatul muslim al kaamil .