Totalitas Berkarya Bersama Dakwah
Majelis Taklim Al-Kahfi
Totalitas Berkarya Bersama Dakwah
Majelis Taklim Al-Kahfi
Totalitas Berkarya Bersama Dakwah
Majelis Taklim Al-Kahfi
Jumat, 23 September 2011
Jumat, 16 September 2011
KELUHAN UMUM, "DOSAKU APA YAA, KOK BISA BEGINI ?"
06.10
No comments
oleh Yusuf Mansur Network pada 16 September 2011 jam 7:05
Kamu
merasa telah menjadi orang yang saleh, begitu bertakwa kepada Allah,
tak memiliki catatan dosa, sehingga ketika dirimu ditimpa penyakit,
hartamu lenyap, perniagaanmu merugi, kamu berkata, “Apa dosaku sampai
ditimpa kesusahan seperti ini?“
Padahal siapa kamu? Sebersih apakah dirimu? Apakah kamu malaikat? Tak pernah tercemarkah tanganmu? Tak pernah ternodakah lisanmu?
Kalau kamu memang orang yang ‘bersih’, mari..marilah kemari. Ini Ayyub عليه السلام , Nabi yang saleh lagi bertakwa. Di satu fase kehidupannya, Allah عز وجل memberinya cobaan. Syaithan menguasai jasadnya. Ia tiupkan padanya penyakit, maka tersebarlah penyakit kulit yang menjijikkan di sekujur tubuhnya . Tergerogotilah sendi-sendi tulangnya dan melemahlah jasadnya. Setelah itu syaithan membakar seluruh hartanya dan meninggallah satu per satu anak-anaknya. Karena tak kuat lagi memikul derita yang kian berat, istri-istrinya pun satu per satu meninggalkannya, hingga hanya satu orang saja yang setia menemaninya…Sudahkah kamu menerima cobaan seperti yang beliau rasakan?
Kalau kamu memang orang yang berhati ‘suci’ tak ‘bernoda’, mari..marilah kemari. Ini Muhammad صلى الله عليه وسلم, kholilullah (kekasih Allah), seorang pemimpin para Nabi dan umat manusia yang paling bertakwa kepada Allah.
Ia pernah dilempar dengan kotoran unta ketika sujud. Dicekik lehernya dengan kain tatkala bermunajat kepada Rabbnya.
Ia keluar dari Thaif dengan langkah gontai, terusir, diejek anak-anak, dilempar batu hingga bercucuranlah darah dari pelipisnya membasahi kakinya..
Ia pemimpin orang-orang bertakwa yang merasakan bagaimana berhari-hari harus mengganjal perut dengan batu untuk menahan lapar.
Ia tidur di atas tikar usang sampai terlihat guratannya di perut dan punggungnya, sehingga membuat sosok Umar bin Khaththab رضي الله عنه yang terkenal keras dan tegas, terenyuh hatinya dan menetes air matanya. “Di sana Kaisar Romawi dan Kisra Persia bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai, sedangkan engkau utusan Allah dan pilihan-Nya,.. “ ujarnya sendu. (HR. Muslim no. 1479)
Lantas, sudahkah kamu merasakan seperti yang beliau rasakan?
Kalau kamu merasa bak pejuang yang banyak berkorban untuk din, mari..marilah kemari. Ini Ammar bin Yasir رضي الله عنهما, shahabat Nabi yang mulia, seorang pejuang dari keluarga pejuang islam nan gigih.
Ia diseret ke padang pasir, didera, dicambuk dan ditindih dengan batu besar di tengah hamparan cuaca bak neraka. Pernah suatu kali ia dipanggang dengan api sehingga mengelupaslah kulitnya, hilanglah kesadarannya.
Tak hanya ini. Kafir Quraisy pun menyakiti Ibunya tercinta. Mereka menyeretnya, merendahkannya dan menyiksanya. Sampai puncaknya, mereka menusuk kemaluannya dengan tombak hingga tembuslah ke anggota tubuh lainnya! Jadilah ia syahid pertama dalam sejarah islam..
Lalu ayahnya tercinta, setelah menerima kebengisan demi kebengisan serta siksaan yang sedemikian rupa, tak kuat lagi raganya menahan semua itu, akhirnya ia menyusul istrinya tercinta. Ia pun meregang nyawa di tengah kekejaman Quraisy yang kian memuncak.. Bertambahlah pilu Ammar..
Apakah kamu sudah merasakan apa yang ia rasakan?
Kalau kamu jadi ‘sengsara’ setelah mencurahkan harta dan tenaga untuk membela agamamu, mari..marilah kemari. Ini Mush’ab bin Umair رضي الله عنه, shahabat Nabi yang mulia, seorang pemuda tampan yang tumbuh dari keluarga kaya raya dan dimanja orang tua. Ketika ia masuk islam, murkalah ibunya, ia penjarakan anaknya lalu diusirlah ia.
Maka keluarlah Mush’ab meninggalkan kasih sayang orang yang selama ini membesarkannya…
Keluarlah ia meninggalkan kemewahan rumah yang selama ini menaunginya…
Keluarlah ia meninggalkan kenikmatan dunia yang selama ini dirasakannya….
Ketika Mush’ab Bin ‘Umair رضي الله عنه datang ke Madinah selepas hijrah dari Habasyah, berubahlah kondisinya. Ia bukan Mushab yang dulu lagi…
Dulu ia selalu memakai pakaian mewah yang mengundang decak kagum orang, tapi sekarang ia memakai pakaian yang usang dan penuh tambalan.
Dulu ia berambut indah menawan beroleskan minyak rambut, namun saat ini rambutnya kusut dan kusam, tidak beraturan.
Dulu kulitnya lembut dan halus, tapi kini menjadi tebal dan kasar…
Penampilannya yang berubah membuat sebagian para shahabat Nabi menundukkan kepala dan memejamkan mata. Tak kuasa mereka menahan air mata karena ibanya memandang Mush’ab. Ia harus merasakan cobaan yang demikian berat demi mempertahankan hidayah yang telah ia rasakan.
Dan wafatnya pun ditangisi..
Abdurrahman Bin Auf رضي الله عنه pernah disajikan makanan dan ketika itu ia sedang berpuasa (nafilah). “Mush’ab Bin ‘Umair terbunuh dalam perang uhud, ” katanya, “Padahal ia lebih baik dariku. Ia dikafani dengan sehelai kain burdah yang bila ditutup kepalanya, tampaklah kakinya dan bila ditutup kakinya, tampaklah kepalanya… ” tak sanggup lagi ia menahan kenangan itu, maka ia pun menangis tersedu-sedu dan meninggalkan makanan yang sudah dihidangkan untuknya. (HR. Bukhari no.1216)
Maka sesuci apakah hatimu dibandingkan mereka, saudaraku? Sebersih apakah dirimu sehingga merasa tak layak menerima cobaan?
Ujian Itu Pembuktian
Seandainya Allah tidak memberikan cobaan kepada seorang hamba karena keimanannya, lantas apa bedanya orang yang tulus beriman dengan yang sekedar pura-pura? Apa bedanya orang yang di atas kebenaran dengan para pengusung kebatilan? Sebab, sudah menjadi ketetapan Allah terhadap orang-orang beriman bahwa mereka, mau tak mau, akan menerima cobaan dan ujian.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur (dalam keimanan) dan mengetahui pula orang-orang yang dusta. “ (QS. Al-Ankabut: 3)
Ketahuilah saudaraku, cobaan dari-Nya itu bisa berupa kesenangan atau kesulitan, kelapangan atau kesempitan, kekayaan atau kemiskinan dan berbagai bentuk fitnah dan ujian. Maka beruntunglah orang yang menahan hatinya dari marah, menahan lisannya dari meradang dan menahan tangannya agar tetap dalam ketaatan kepada Allah عز وجل. Tidaklah ia mengadukan kesedihan dan kegundahannya itu melainkan hanya kepada Rabbnya.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin karena segala perkaranya itu baik. Dan tidaklah itu didapati kecuali dari seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika tertimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu baik pula baginya.” (HR Muslim no. 2999)
“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, pasti Dia akan menguji mereka. Maka siapa yang ridha terhadap ujian tersebut, baginya keridhaan-Nya dan siapa yang murka, baginya kemurkaan-Nya ”. (HR. Tirmidzi no. 2396)
“Tidaklah seorang mukmin ditimpa keletihan, sakit, kegundahan, kesedihan, rasa sakit dan tidak pula kepiluan sampai duri yang menusuknya melainkan Allah hapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu semua. “(HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2574)
Dan ketahuilah pula, seberapapun besar dan dahsyatnya cobaan yang kamu rasakan, itu sesuai dengan kadar kemampuan dan keimananmu.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. “ (QS. Al-Baqarah: 286)
Sa’d bin Abi Waqqash رضي الله عنه bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling besar cobaannya? Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, “Para Nabi lalu orang-orang saleh lalu yang setelahnya dan setelahnya dari keumuman manusia. Seorang hamba diberi cobaan sesuai kadar keimanannya. Bila imannya kuat, ditambahlah cobaan untuknya dan bila imannya lemah diringankanlah cobaannya. Maka tiada henti bala menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi tanpa memiliki sedikitpun dosa. “ (HR. Tirmidzi no. 2398 dan Ibnu Majah no. 4023)
Padahal siapa kamu? Sebersih apakah dirimu? Apakah kamu malaikat? Tak pernah tercemarkah tanganmu? Tak pernah ternodakah lisanmu?
Kalau kamu memang orang yang ‘bersih’, mari..marilah kemari. Ini Ayyub عليه السلام , Nabi yang saleh lagi bertakwa. Di satu fase kehidupannya, Allah عز وجل memberinya cobaan. Syaithan menguasai jasadnya. Ia tiupkan padanya penyakit, maka tersebarlah penyakit kulit yang menjijikkan di sekujur tubuhnya . Tergerogotilah sendi-sendi tulangnya dan melemahlah jasadnya. Setelah itu syaithan membakar seluruh hartanya dan meninggallah satu per satu anak-anaknya. Karena tak kuat lagi memikul derita yang kian berat, istri-istrinya pun satu per satu meninggalkannya, hingga hanya satu orang saja yang setia menemaninya…Sudahkah kamu menerima cobaan seperti yang beliau rasakan?
Kalau kamu memang orang yang berhati ‘suci’ tak ‘bernoda’, mari..marilah kemari. Ini Muhammad صلى الله عليه وسلم, kholilullah (kekasih Allah), seorang pemimpin para Nabi dan umat manusia yang paling bertakwa kepada Allah.
Ia pernah dilempar dengan kotoran unta ketika sujud. Dicekik lehernya dengan kain tatkala bermunajat kepada Rabbnya.
Ia keluar dari Thaif dengan langkah gontai, terusir, diejek anak-anak, dilempar batu hingga bercucuranlah darah dari pelipisnya membasahi kakinya..
Ia pemimpin orang-orang bertakwa yang merasakan bagaimana berhari-hari harus mengganjal perut dengan batu untuk menahan lapar.
Ia tidur di atas tikar usang sampai terlihat guratannya di perut dan punggungnya, sehingga membuat sosok Umar bin Khaththab رضي الله عنه yang terkenal keras dan tegas, terenyuh hatinya dan menetes air matanya. “Di sana Kaisar Romawi dan Kisra Persia bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai, sedangkan engkau utusan Allah dan pilihan-Nya,.. “ ujarnya sendu. (HR. Muslim no. 1479)
Lantas, sudahkah kamu merasakan seperti yang beliau rasakan?
Kalau kamu merasa bak pejuang yang banyak berkorban untuk din, mari..marilah kemari. Ini Ammar bin Yasir رضي الله عنهما, shahabat Nabi yang mulia, seorang pejuang dari keluarga pejuang islam nan gigih.
Ia diseret ke padang pasir, didera, dicambuk dan ditindih dengan batu besar di tengah hamparan cuaca bak neraka. Pernah suatu kali ia dipanggang dengan api sehingga mengelupaslah kulitnya, hilanglah kesadarannya.
Tak hanya ini. Kafir Quraisy pun menyakiti Ibunya tercinta. Mereka menyeretnya, merendahkannya dan menyiksanya. Sampai puncaknya, mereka menusuk kemaluannya dengan tombak hingga tembuslah ke anggota tubuh lainnya! Jadilah ia syahid pertama dalam sejarah islam..
Lalu ayahnya tercinta, setelah menerima kebengisan demi kebengisan serta siksaan yang sedemikian rupa, tak kuat lagi raganya menahan semua itu, akhirnya ia menyusul istrinya tercinta. Ia pun meregang nyawa di tengah kekejaman Quraisy yang kian memuncak.. Bertambahlah pilu Ammar..
Apakah kamu sudah merasakan apa yang ia rasakan?
Kalau kamu jadi ‘sengsara’ setelah mencurahkan harta dan tenaga untuk membela agamamu, mari..marilah kemari. Ini Mush’ab bin Umair رضي الله عنه, shahabat Nabi yang mulia, seorang pemuda tampan yang tumbuh dari keluarga kaya raya dan dimanja orang tua. Ketika ia masuk islam, murkalah ibunya, ia penjarakan anaknya lalu diusirlah ia.
Maka keluarlah Mush’ab meninggalkan kasih sayang orang yang selama ini membesarkannya…
Keluarlah ia meninggalkan kemewahan rumah yang selama ini menaunginya…
Keluarlah ia meninggalkan kenikmatan dunia yang selama ini dirasakannya….
Ketika Mush’ab Bin ‘Umair رضي الله عنه datang ke Madinah selepas hijrah dari Habasyah, berubahlah kondisinya. Ia bukan Mushab yang dulu lagi…
Dulu ia selalu memakai pakaian mewah yang mengundang decak kagum orang, tapi sekarang ia memakai pakaian yang usang dan penuh tambalan.
Dulu ia berambut indah menawan beroleskan minyak rambut, namun saat ini rambutnya kusut dan kusam, tidak beraturan.
Dulu kulitnya lembut dan halus, tapi kini menjadi tebal dan kasar…
Penampilannya yang berubah membuat sebagian para shahabat Nabi menundukkan kepala dan memejamkan mata. Tak kuasa mereka menahan air mata karena ibanya memandang Mush’ab. Ia harus merasakan cobaan yang demikian berat demi mempertahankan hidayah yang telah ia rasakan.
Dan wafatnya pun ditangisi..
Abdurrahman Bin Auf رضي الله عنه pernah disajikan makanan dan ketika itu ia sedang berpuasa (nafilah). “Mush’ab Bin ‘Umair terbunuh dalam perang uhud, ” katanya, “Padahal ia lebih baik dariku. Ia dikafani dengan sehelai kain burdah yang bila ditutup kepalanya, tampaklah kakinya dan bila ditutup kakinya, tampaklah kepalanya… ” tak sanggup lagi ia menahan kenangan itu, maka ia pun menangis tersedu-sedu dan meninggalkan makanan yang sudah dihidangkan untuknya. (HR. Bukhari no.1216)
Maka sesuci apakah hatimu dibandingkan mereka, saudaraku? Sebersih apakah dirimu sehingga merasa tak layak menerima cobaan?
Ujian Itu Pembuktian
Seandainya Allah tidak memberikan cobaan kepada seorang hamba karena keimanannya, lantas apa bedanya orang yang tulus beriman dengan yang sekedar pura-pura? Apa bedanya orang yang di atas kebenaran dengan para pengusung kebatilan? Sebab, sudah menjadi ketetapan Allah terhadap orang-orang beriman bahwa mereka, mau tak mau, akan menerima cobaan dan ujian.
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur (dalam keimanan) dan mengetahui pula orang-orang yang dusta. “ (QS. Al-Ankabut: 3)
Ketahuilah saudaraku, cobaan dari-Nya itu bisa berupa kesenangan atau kesulitan, kelapangan atau kesempitan, kekayaan atau kemiskinan dan berbagai bentuk fitnah dan ujian. Maka beruntunglah orang yang menahan hatinya dari marah, menahan lisannya dari meradang dan menahan tangannya agar tetap dalam ketaatan kepada Allah عز وجل. Tidaklah ia mengadukan kesedihan dan kegundahannya itu melainkan hanya kepada Rabbnya.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin karena segala perkaranya itu baik. Dan tidaklah itu didapati kecuali dari seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika tertimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu baik pula baginya.” (HR Muslim no. 2999)
“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, pasti Dia akan menguji mereka. Maka siapa yang ridha terhadap ujian tersebut, baginya keridhaan-Nya dan siapa yang murka, baginya kemurkaan-Nya ”. (HR. Tirmidzi no. 2396)
“Tidaklah seorang mukmin ditimpa keletihan, sakit, kegundahan, kesedihan, rasa sakit dan tidak pula kepiluan sampai duri yang menusuknya melainkan Allah hapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu semua. “(HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2574)
Dan ketahuilah pula, seberapapun besar dan dahsyatnya cobaan yang kamu rasakan, itu sesuai dengan kadar kemampuan dan keimananmu.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. “ (QS. Al-Baqarah: 286)
Sa’d bin Abi Waqqash رضي الله عنه bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling besar cobaannya? Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, “Para Nabi lalu orang-orang saleh lalu yang setelahnya dan setelahnya dari keumuman manusia. Seorang hamba diberi cobaan sesuai kadar keimanannya. Bila imannya kuat, ditambahlah cobaan untuknya dan bila imannya lemah diringankanlah cobaannya. Maka tiada henti bala menimpa seorang hamba sampai ia berjalan di muka bumi tanpa memiliki sedikitpun dosa. “ (HR. Tirmidzi no. 2398 dan Ibnu Majah no. 4023)
Selasa, 09 Agustus 2011
Pentingnya Motivasi Diri
22.44
No comments
“Ngomong-ngomong tentang motivasi diri, mengapa setelah mengikuti seminar motivasi, motivasi tidak bertahan lama?” Pada artikel lain
saya sudah membahas bahwa motivasi memang bisa berkurang. Menyangka
motivasi itu permanen, adalah kesalahan yang pertama. Alasan kedua ialah
kita akan kehilangan motivasi jika kita hanya mengharap motivasi dari
luar. Sebab motivasi terkuat datang dari diri sendiri.
Lalu bagaimana dengan peran motivasi dari luar? Meski motivasi diri itu penting, bukan berarti motivasi dari luar tidak penting. Motivasi yang datang dari luar bisa membantu menemukan dan membangkitkan motivasi diri Anda. Seorang motivator yang baik tentu akan membangun diri Anda menjadi seorang yang mampu menemukan dan membangkitkan motivasi diri yang di motivasinya.
Faktor Motivasi Diri
Dalam berbagai buku NLP disebutkan bahwa hanya ada dua faktor motivasi diri
yaitu mengejar kenikmatan dan menghindari kesengsaraan atau rasa sakit.
Namun jika saya kerucutkan lagi, hanya ada satu faktor motivasi, yaitu
cinta. Semakin besar cinta kita, akan semakin besar motivasi yang
bangkit.
Lihatlah, banyak orang yang sampai nekat bunuh diri
karena putus cinta. Ini menggambarkan bahwa cinta memiliki kekuatan
untuk menggerakkan diri kita, bahkan untuk hal-hal yang buruk dan tidak
masuk akal. Mungkin Anda sudah banyak mendengarkan kisah cinta picisan,
apa pun dilakukan “karena cinta”. Cinta adalah sumber dari motivasi
diri.
Joe Vitale menyadari kekuatan cinta sebagai motivator utama setelah dia melihat film 50 First Dates (2004) (50 Kencan Pertama) yang menggambarkan usaha
seorang pria yang setiap hari berusaha membuat seroang wanita jatuh
cinta kepadanya. Usaha ini dilakukan setiap hari, karena sang gadis
pujaan memiliki ingatan yang mampu mengingat cuma 1 hari. Ini hanya
salah satu dari sekian kisah cinta dalam film.
Anda bisa
memanfaatkan kekuatan cinta ini untuk mendapatkan motivasi diri. Tentu
saja, tidak sebatas cinta terhadap lawan jenis, tetapi cinta kepada hal
lainnya juga. Saat Anda mencintai pekerjaan Anda, Anda akan memiliki
motivasi yang cukup saat bekerja. Lihatlah pemasin sepak bola, di tengah
jadwal yang ketat, mereka tetap enjoy bermain di lapangan, karena mereka mencintai profesinya sebagai pesebak bola.
Motivasi Diri Paling Kuat
Namun, ada cinta yang paling kuat.
Saat Anda tidak memiliki cinta ini, sungguh Anda sudah menyia-nyiakan
hidup Anda. Inilah cinta yang paling besar, yang memotivasi para mujahid
di medan perang. Tidak takut mati, tidak takut rasa sakit, tidak takut
apa pun, demi cinta ini. Cinta ini tiada lain, cinta kepada Allah. Cinta
kepada Allah, adalah cinta yang hakiki yang menjadi sumber motivasi
diri paling kuat.
Karena bekerja adalah bagian dari ibadah. Begitu juga bisnis
adalah bagian dari ibadah. Dan, ibadah adalah sebagai cinta kita kepada
Allah, maka kerja dan bisnis kita juga adalah perwujudan cinta kita
kepada Allah. Seharusnya, saat kita bekerja dan bisnis, kita akan
memiliki motivasi yang tinggi.
Sudahkah?
Mari kita
pancangkan niat kita, bahwa kerja dan bisnis kita untuk beribadah.
Marilah kita pupuk kesadaran kita, bahwa bisnis dan kerja kita adalah
salah bentuk wujud cinta kita kepada Allah.
Adakah perasaan cinta
kita kepada Allah? Jika terasa kurang, maka iman kita harus ditingkatkan
lagi. Sebab cinta kepada Allah hanya dimiliki oleh mereka yang beriman.
Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (QS Al Baqarah:165).
Jadi,
motivasi diri bisa dikembangkan dengan meningkatkan iman kepada Allah
secara terus menerus. Cinta kepada kepada Allah semakin tinggi, motivasi diri pun semakin tinggi.
Hari-hari Akan Dijalani Dengan Penuh Semangat
Tidak
ada wujud lain dari bukti cinta kita kepada Allah selain dari
beribadah. Ibadahlah yang diminta oleh Allah. Sebagai bukti jika kita
mencintai-Nya maka kita akan menuruti apa yang diminta oleh Yang
Dicintainya.
Semantara, semua hidup kita harus dalam rangka
ibadah. Semua aktivitas kita adalah ibadah. Artinya semua gerak gerik
kita harus merupakan bentuk cinta kepada Allah.
- Pertama, niatkan bahwa apa yang kita lakukan adalah demi Allah yang kita cintai.
- Kedua, lakukan aktivitas kita sesuatu dengan tuntutan syar’i, baik itu adalah ibadah maghdoh maupun ghair maghdoh, keduanya ada tuntunannya. Artinya sebagai wujud cinta kepada Allah kita akan terus belajar bagaimana cara menjalankan ibadah yang benar.
- Dan yang kita kita akan semangat melakukannya. Biasanya, kita akan melakukan sesuatu dengan semangat, berani, dan kontinyu demi yang dicintainya.
Namun Cinta Urusan Hati
Cinta
adalah urusan hati. Cinta adalah tidak bisa dipaksakan. Betulkah? Tentu
saja ada benarnya. Namun, secara fitrah, manusia adalah makhluq yang
mencintai Allah. Secara fitrah manusia sangat mencintai Allah.
Namun
pada kenyataannya, cinta kepada Allah bisa dibelokan. Kita bisa melihat
bagaimana cinta kepada lawan jenis bisa mengalah cinta kepada Allah.
Buktinya adalah mereka yang mau melakukan hal-hal dosa demi cintanya
kepada pacar. Cinta kepada harta pun bisa mengalahkan cinta kita kepada
Allah. Buktinya banyak orang yang mau melakukan usaha yang haram demi
cintanya kepada harta.
Syaithan dengan memanfaatkan hawa nafsu
menjadikan apa yang kita cintai selain Allah menjadi begitu indah.
Seolah tidak ada cinta yang lebih penting dibandingkan “seseorang”
pujaan hatinya. Apa pun rela dilakukan demi cintanya itu.
Dan
demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka
membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang
indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya
mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang
mereka ada-adakan. (QS. Al-An’aam: 112)
Cinta
memang urusan hati, namun kita bisa membersihkan hati agar kita
memiliki cinta yang hakiki, cinta pada tempatnya. Cinta kepada lawan
jenis, harta, keluarga, dan yang lainnya boleh sebagai motivasi diri
Anda, yang penting tidak mengalahkan cinta Anda kepada Allah sebagai
motivasi diri yang utama.
Langganan:
Postingan (Atom)










