Totalitas Berkarya Bersama Dakwah

Majelis Taklim Al-Kahfi

Totalitas Berkarya Bersama Dakwah

Majelis Taklim Al-Kahfi

Totalitas Berkarya Bersama Dakwah

Majelis Taklim Al-Kahfi

Minggu, 25 November 2012


Hari Guru Nasional Tahun 2012 dan HUT Ke-67 PGRI - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Kementerian Agama dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tahun ini kembali melaksanakan Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2012 dan HUT ke-67 PGRI.

Hari Guru Nasional Tahun 2012 dan HUT Ke-67 PGRI

Hari Guru Nasional (HGN) diperingati pada tanggal 25 November setiap tahunnya, yang juga merupakan hari kelahiran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang diperingati secara bersama-sama. Sejumlah kegiatan direncanakan akan berlangsung baik di tingkat pusat maupun daerah.

Sebagai acuan dalam rangka penyelenggaraan peringatan Hari Guru Nasional tahun 2012 dan HUT Ke-67 PGRI, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, dan Pengurus Besar PGRI telah menerbitkan Pedoman Pelaksanaan Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2012 dan HUT Ke-67 PGRI serta Pedoman Pelaksanaan Upacara Bendera Hari Guru Nasional Tahun 2012 dan HUT Ke-67 PGRI.

Adapun tema peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2012 dan HUT ke-67 PGRI adalah "Memacu Professionalisasi Guru melalui Peningkatan Kompetensi dan Penegakan Kode Etik".

Berikut link untuk mengunduh Pedoman Pelaksanaan Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2012 dan HUT Ke-67 PGRI serta Pedoman Pelaksanaan Upacara Bendera Hari Guru Nasional Tahun 2012 dan HUT Ke-67 PGRI.

1. PEDOMAN PELAKSANAAN HGN TAHUN 2012_FINAL ok.pdf
2. PEDOMAN UPACARA BENDERA HGN 2012_FINAL.pdf

Rabu, 21 November 2012

Keutamaan Puasa 10 Muharram (Asyura’)


Bismillahirrahmanirrahiim..
Innalhamdalillahi nahmaduhu wanasta’iinuhu wanastaghfiruhu Wana’udzubiillah minsyurruri ‘anfusinaa waminsayyi’ati ‘amaalinnaa Manyahdihillah falah mudhillalah Wa man yudhlil falaa haadiyalah Wa asyhadu allaa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
(Segala puji bagi Allah yang hanya kepadaNya kami memuji, memohon pertolongan, dan mohon ampunan. Kami berlindung kepadaNya dari kekejian diri dan kejahatan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkan, dan barang siapa yang tersesat dari jalanNya maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah melainkan Allah saja, yang tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya)
Keluarga kajian yang dimanapun berada, semoga selalu berada dalam limpahan rahmat dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
Beberapa hari lagi, tahun hijriah akan bertambah angka digit terakhirnya dan tak terasa satu tahun Allah swt telah memberikan kita kesempatan untuk hidup meraih rahmatNya sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Bulan Muharram sebagai awal bulan pembuka Tahun Hijriah memiliki keistimewaan tersendiri diantara bulan Hijriah lainnya, berikut mari kita simak Ayat cintaNya dan Hadist tentang Bulan Muharram dan keutamaan Puasa Asy-syuara di Bulan Muharram.
Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah dimana empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Allah swt berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram,” (QS. At Taubah: 36)
Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang, bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang.
Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan Nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai rasa syukur atas pertolongan Allah.
Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan.
Ketika Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam telah berhijrah dan tiba di Madinah, beliau mendapati Yahudi Madinah ternyata juga bershaum pada hari tersebut. Maka beliau bertanya kepada mereka. Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh shahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anhuma :
Bahwa Nabi shalallahu’alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau mendapat Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka beliau bertanya (kepada mereka) : “Hari apakah ini yang kalian bershaum padanya?” Maka mereka menjawab : “Ini merupakan hari yang agung, yaitu pada hari tersebut Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun bersama kaumnya. Maka Musa bershaum pada hari tersebut dalam rangka bersyukur (kepada Allah). Maka kami pun bershaum pada hari tersebut” Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda : “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Maka Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bershaum pada hari tersebut dan memerintahkan (para shahabat) untuk bershaum pada hari tersebut. [HR. Al-Bukhari 2004, 3397, 3943, 4680, 4737. Muslim 1130]
Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang shaum pada hari Asyura`, maka beliau menjawab :
“(Shaum tersebut) menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah lewat.” [HR. Muslim 1162)
Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura.
Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah saw memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa “Shaum ‘Asyura` memiliki empat tingkatan :
Tingkat Pertama : bershaum pada tanggal 9, 10, dan 11. Ini merupakan tingkatan tertinggi. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad : Bershaumlah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Selisihilah kaum Yahudi.” Dan karena seorang jika ia bershaum (pada) 3 hari (tersebut), maka ia sekaligus memperoleh keutamaan shaum 3 hari setiap bulan.
Tingkat Kedua : bershaum pada tanggal 9 dan 10. Berdasarkan sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam : “Kalau saya hidup sampai tahun depan, niscaya aku bershaum pada hari ke-9.” Ini beliau ucapkan ketika disampaikan kepada beliau bahwa kaum Yahudi juga bershaum pada hari ke-10, dan beliau suka untuk berbeda dengan kaum Yahudi, bahkan dengan semua orang kafir.
Tingkat Ketiga : bershaum pada tanggal 10 dan 11.
Tingkat Keempat : bershaum pada tanggal 10 saja. Di antara ‘ulama ada yang berpendapat hukumnya mubah, namun ada juga yang berpendapat hukumnya makruh.
Yang berpendapat hukumnya mubah berdalil dengan keumuman sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam ketika beliau ditanya tentang shaum ‘Asyura`, maka beliau menjawab “Saya berharap kepada Allah bahwa shaum tersebut menghapuskan dosa setahun sebelumnya.” Beliau tidak menyebutkan hari ke-9.
Sementara yang berpendapat hukumnya makruh berdalil dengan sabda Nabi shalallahu’alaihi wa sallam : “Selisihilah kaum Yahudi. Bershaumlah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” Dalam lafazh lain, “Bershaumlah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya.” Sabda beliau ini berkonsekuensi wajibnya menambahkan satu hari dalam rangka menyelisihi (kaum Yahudi), atau minimalnya menunjukkan makruh menyendirikan shaum pada hari itu (hari ke-10) saja. Pendapat yang menyatakan makruh menyendirikan shaum pada hari itu saja merupakan pendapat yang kuat.”
Kesibukan yang ada, terkadang membuat kita lupa esok tanggal berapa, jika saat ini keluarga kajian dekat dengan alat yang bisa mengingatkan keluarga kajian semua akan pentingnya shaum bulan Muharram, kita buat “reminder” yuk, bersiap menyambut keutamaannya dengan berniat untuk melaksanakannya esok di tanggal 9, 10 Muharram. Selamat menempuh tahun baru dengan peluang kesuksesan dan kenikmatan memperoleh rizki di dunia untuk mendapatkan akhiratnya.
=div.kreatif=
Sumber :
Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi
Penjelasan ustadz Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam ulamasunnah.wordpress.com dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta` dalam ikhwanmuslim.or.id

Minggu, 18 November 2012

Tahun Baru Hijriah, Momentum Becermin Diri

Tahun baru 1434 Hijriah berlalu diam-diam. Di sejumlah daerah, mengiringi pergantian tahun tersebut, berlangsung acara doa dan dzikir bersama. Masyarakat berusaha menyatukan hati dan pikiran untuk memohon agar tahun mendatang menjadi lebih baik daripada tahun yang baru lewat. Namun sebagian yang lain belum menyadari bahwa tahun telah berganti, dan itu bermakna semakin berkurangnya kesempatan untuk berbuat kebaikan.
Pergantian tahun dapat menjadi momentum bagi kita bersama untuk melakukan introspeksi dan berefleksi tentang apa yang telah kita perbuat. Refleksi semacam ini kian diperlukan agar kegiatan ritual tidak berjarak -- apalagi berjarak jauh -- dengan kegiatan sosial, yang notabene merupakan perwujudan dari pergulatan dalam batin kita. Adanya jarak menandakan bahwa kegiatan ritual tak memberi dampak positif yang berarti terhadap kegiatan sosial kita.

Bila menengok sejarahnya, tampaklah bahwa tahun Hijriah dipancangkan oleh Khalifah Umar ibn Khattab dengan mengacu pada peristiwa hijrah. Momentum itu dipilih sebagai tonggak tahun Islam dengan pertimbangan hijrah menandakan keteguhan sikap, kesabaran, optimisme, dan kebersamaan masyarakat Muslim dalam menghadapi sejumlah masalah kala itu. Nabi Muhammad, dengan segala keterbatasan logistik, memimpin umat berhijrah dalam rangka tetap menegakkan kebenaran.

Kita, yang hidup di zaman sekarang, rasanya perlu terus menerus memperbarui semangat dengan belajar dari peristiwa hijrah tersebut. Penyegaran semangat itu, di tengah suasana tahun baru ini, amat relevan untuk menghadapi dan menjawab persoalan-persoalan masa kini. Kita mungkin lebih maju dalam katagori ekonomis, namun mengalami pemiskinan dalam katagori spirit ketuhanan dan kemanusiaan-sosial. Sisi yang terakhir inilah yang seyogyanya memperoleh pengasahan lebih serius dan terus menerus.

Ajakan untuk selalu memperbarui spirit ketuhanan dan kemanusiaan ini barangkali akan dianggap angin lalu untuk kemudian hilang di tengah padang pasir. Namun ia tetap bermakna untuk dinyatakan, agar kehidupan kita tidak berjalan tanpa jiwa. Spirit tersebut dibutuhkan dalam upaya kita menjawab perubahan zaman -- tatkala kita membutuhkan ketahanan diri, kesungguhan yang lebih tegar, optimisme yang realistis, serta kebersamaan yang tidak timpang di antara sesama anggota masyarakat.

Di awal tahun baru 1434 Hijriah ini, pantaslah kita bertanya kepada diri sendiri: ''Apa yang sudah kita lakukan bagi kebaikan bersama?'' -- dikaitkan dengan berbagai hal dan peristiwa, berbagai waktu dan kesempatan, berbagai orang dan kalangan. Adakah titik-titik dalam rentang waktu satu tahun yang baru silam kita telah mengukir kebaikan, menyenangkan orang lain (dalam kebaikan), dan seterusnya. Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin akan mengusik kita, namun di saat yang sama ia dapat menjadi pemicu bagi kita untuk lebih baik (lagi). Pergantian tahun dapat menjadi momentum refleksi, dapat pula berlalu diam-diam tanpa arti.

Tahun Baru Hijriah 1434 H

Hikmah 1 Muharam 1434 H Merupakan Fenomena Universal


Hijriah adalah nilai historis yang ditandai dengan pergerakan Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah 1433 tahun yang lalu.
Inilah adalah titik tolak kemanjuan Islam yang tak hanya terkurung dalam kota Mekah, tapi menyebar ke luar ke berbagai kota, bangsa, negara termasuk Indonesia.
Hijrah menurut Ketua NU Makassar H Abdul Kadir Ahmad adalah fenomena mobilitas sosial baru untuk kemajuan suatu bangsa atau kaum. Sementara ciri-ciri kehancuran sebuah kaum jika ia hanya berdiam diri (statis) dan tak bisa beradaptasi.
Konsep Hijrah secara geografis ini sebenarnya juga dilakukan negara-negara besar di dunia. Sejarah kemajuan Amerika karena adanya migran asal Portugis. Indonesia, Jakarta, dan Makassar juga demikian.
Bahkan jika dilihat dari segi kebudayaan masyarakat Bugis Makassar adalah orang yang suka hijrah (perantau). Rumah orang Bugis-Makassar tiangnya tidak ditanam ke tanah. Hal itu menandakan bahwa sewaktu-waktu mereka akan berpindah tempat dengan berbagai alasan.
Kini hijrah sudah menjadi fenomena universal. Orang harus terus bergerak. Namun lebih dari itu secara simbolik hijrah bermakna adanya keinginan untuk bergerak maju, merubah nasib atau keadaan dari yang buruk menjadi baik, yang rendah menjadi tinggi.
Bagi umat Islam, seharusnya momentum hijrah kini bisa lebih berpengaruh secara kuat untuk mendorong kemajuan Islam di kanca dunia baik secara horizontal maupun vertikal.
Secara horizontal harus menyebar ke seluruh negara dengan dakwah. Sementar secara vertikal status sosial baik secara ekonomi maupun kepemimpinan umat islam harus lebih tinggi. Sudah saatnya Islam harus tampil dalam kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepemimpinan.
Sementara itu, secara personal kita berharap setiap umat Islam memiliki kesadaran diri agar merubah mind set untuk lebih cerdas, produktif, efisien dalam mengarungi arus globalisasi yang semakin kuat.
Bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara dengan umat muslim terbesar di dunia, mestinya peran muslim di Indonesia lebih menonjol.
Di samping itu, Indonesia juga dikenal sebagai negara yang demokratis. Hal itu sebenarnya adalah modal besar untuk berperan dalam dunia Internasional. Hal ini juga ditunjang sumber daya alam dan letak geografisnya.(

Sabtu, 27 Oktober 2012

Sumpah Pemuda: Wahai Pemuda, Nyalakan Semangatmu !!

Sekitar 84 tahun lampau, ratusan pemuda dari beraneka latar belakang suku, dan daerah berkumpul di sebuah bangunan di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat, sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong. Pada rapat penutup di c di Jalan Kramat Raya 106 itu, para pemuda yang hadir mengucapkan suatu Sumpah Setia yang dikemudian hari dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Sumpah Setia itu merupakan hasil rumusan Kongres Pemuda Kedua yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Kongres Pemuda Kedua itu konon merupakan respon dan reaksi para pemuda atas Kongres Pertama di tahun 1926.

Dalam catatan sejarah, disebutkan bahwa ormas pemuda memboikot kongres tahun 1926 karena ditumpangi kepentingan Zionis atau Freemasonry dan Belanda. Lokasi Konggres Pertama yang berada di loge Broederkaten di Vrijmetselarijweg dan peran Theosofische Vereeniging (TV) sebagai penyandang dana Kongres Pemuda I (1926) itulah yang kemudian menjadikan para pemuda memboikot kongres (lihat: Jejak Sejarah Yahudi di Indonesia, Ridwan Saidi). Isi Sumpah Pemuda versi orisinal tersebut adalah
[1]:
Pertama Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoea Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Demikian isi Sumpah Pemuda yang merupakan sumpah setia hasil rumusan Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia atau dikenal dengan Kongres Pemuda II, yang dibacakan pada 28 Oktober 1928. Selanjutnya, tanggal ini kemudian diperingati sebagai “Hari Sumpah Pemuda”.

Rumusan Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada secarik kertas ketika Mr. Sunario, tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin[2]. Demikianlah selintas kisah sejarah Sumpah Pemuda. Seberapa pentingkah Pemuda sehingga sampai-sampai sumpahnya pemuda menjadi salah satu kisah yang mengisi sejarah Republik Indonesia?
Jauh sebelum Sumpah Pemuda itu ada, Rasul SAW telah bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu ‘anhu-, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”.(HR. At-Tirmizi).
Selanjutnya dalam kesempatan lain, Rasul SAW memberikan kabar gembira dalam hadits yang shahih, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya,“Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.” Jika sumpah pemuda menggagas sumpah nasionalisme yang hanya terbatas pada konsep daerah dan wilayah tertentu, maka Islam yang diajarkan melalui Rasul SAW mengajarkan sumpah penghambaan hanya kepada Allah SWT saja.
Sumpah Syahadah (sebutlah demikian_pen), ternyata telah ampuh dan sangat jauh lebih ampuh melahirkan para pemuda-pemuda harapan dunia, tak hanya bangsa.
Sebutlah saja misalnya dari proses tarbiyah (pendidikan) Rasul SAW, telah lahir sejumlah pemuda hebat seperti yang paling muda adalah 8 tahun, siapa lagi kalau bukan Ali bin Abi Thalib dan Az-Zubair bin Al-Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, 11 tahun, Al Arqaam bin Abil Arqaam 12 tahun, Abdullah bin Mazh’un berusia 17 tahun, Ja’far bin Abi Thalib 18 tahun, Qudaamah bin Abi Mazh’un berusia 19 tahun, Said bin Zaid dan Shuhaib Ar Rumi berusia dibawah 20 tahun, ‘Aamir bin Fahirah 23 tahun, Mush’ab bin ‘Umair dan Al Miqdad bin al Aswad berusia 24 tahun, Abdullah bin al Jahsy 25 tahun, Umar bin al Khathab 26 tahun, Abu Ubaidah Ibnuk Jarrah dan ‘Utbah bin Rabi’ah, ‘Amir bin Rabiah, Nu’aim bin Abdillah, ‘ Usman bin Mazh’un, Abu Salamah, Abdurrahman bin Auf dimana kesemuanya sekitar 30 tahun, Ammar bin Yasir diantara 30-40 tahun, dan Abu Bakar Ash Shiddiq 37 tahun.
Mereka secara keseluruhannya adalah kalangan pemuda, bahkan ada diantara mereka adalah remaja yang belum atau baru dewasa. Usamah bin Zaid diangkat oleh Nabi SAW sebagai komandan untuk memimpin pasukan kaum muslimin menyerbu wilayah Syam (saat itu merupakan wilayah Romawi) dalam usia 18 tahun. Padahal diantara prajuritnya terdapat orang yang lebih tua seperti Usamah, Abu Bakar, Umar bin Khathab, dan lain-lainnya. Abdullah bin Umar telah pula memiliki semangat juang yang bergelora untuk berperang sejak berumur 13 tahun.
Ketika Rasulullah SAW sedang mempersiapkan barisan pasukan pada perang Badar, Ibnu Umar bersama al Barra’ datang kepada Rasul SAW seraya meminta agar diterima sebagai prajurit. Saat itu, Rasulullah SAW menolak kedua pemuda kecil itu. Tahun berikutnya, pada perang Uhud, keduanya datang lagi, tapi yang diterima hanya Al barra’. Dan pada perang Al Ahzab barulah Nabi menerima Ibnu Umar sebagai anggota pasukan kaum muslimin (lihat Shahih Bukhari VII/266 dan 302).
Kisah mengharukan lain muncul dalam peristiwa yang sangat menarik untuk renungan para pemuda di zaman ini. Peristiwa ini selengkapnya diceritakan oleh Abdurrahman bin Auf: “Selagi aku berdiri di dalam barisan perang Badar, aku melihat ke kanan dan ke kiri ku. Saat itu tampaklah olehku dua orang Anshar yang masih muda belia. Aku berharap semoga aku lebih kuat daripada mereka. Tiba-tiba salah seorang daripada mereka menekanku sambil berkata: ‘Wahai paman, apakah engkau mengenal Abu Jahal ?” Aku menjawab: ”Ya, apakah keperluanmu padanya, wahai anak saudaraku?” Dia menjawab: ”Ada seorang memberitahuku bahawa Abu Jahal ini sering mencela Rasulullah saw. Demi (Allah) yang jiwaku ada ditangan-Nya, jika aku menjumpainya tentulah tak kan kulepaskan dia sampai siapa yang terlebih dulu mati antara aku dengan dia!” Berkata Abdurrahman bin Auf: ‘Aku merasa heran ketika mendengarkan ucapan anak muda itu’. Kemudian anak muda yang satu lagi menekanku pula dan berkata seperti temannya tadi. Tidak lama berselang daripada itu aku pun melihat Abu Jahal mondar dan mandir di dalam barisannya, maka segera aku kabarkan (kepada dua anak muda itu): ”Itulah orang yang sedang kalian cari.” Keduanya langsung menyerang Abu Jahal, menikamnya dengan pedang sampai tewas. Setelah itu mereka menghampiri Rasulullah SAW (dengan rasa bangga) melaporkan kejadian itu. Rasulullah berkata: ‘Siapa di antara kalian yang menewaskannya?’ Masing-masing menjawab: ‘sayalah yang membunuhnya’. Lalu Rasulullah bertanya lagi: ‘Apakah kalian sudah membersihkan mata pedang kalian?’ ‘Belum’ jawab mereka serentak. Rasulullah pun kemudian melihat pedang mereka, seraya bersabda: ‘Kamu berdua telah membunuhnya. Akan tetapi segala pakaian dan senjata yang dipakai Abu Jahal (boleh) dimiliki Mu’adz bin al Jamuh.” (Berkata perawi hadits ini): Kedua pemuda itu adalah Mu’adz bin “Afra” dan Mu’adz bin Amru bin Al Jamuh” (lihat Musnad Imam Ahmad I/193; Sahih Bukhari Hadits nomor 3141 dan Sahih Muslim hadits nombor 1752).
Sangat luarbiasa membaca kisah para pemuda Islam masa-masa dahulu di dalam menggenggam tauhid dan menjiwai penghambaannya kepada Allah SWT. Tak hanya berkorban harta, jiwa dan nyawanya pun ia pertaruhkan untuk dzat yang paling mulia, Allah SWT. Para pemuda itu benar-benar mewujudkan ”sumpah syahadah” mereka untuk benar-benar mempersembahkan hidup, mati, dan segala pengorbanan mereka demi Allah SWT. Dan ternyata para pemuda-pemuda seperti itu tak sedikit dimiliki oleh Islam pada setiap zamannya.
Agak sedikit menjauh dari zaman para sahabat Nabi SAW, lahirlah generasi keemasan Islam pertama setelah Rasul SAW. Pemuda itu bernama Umar bin Abdul Aziz yang diangkat menjadi khalifah pada usia 37 tahun. Beliau dilantik menjadi Khalifah selepas kematian Sulaiman bin Abdul Malik tetapi beliau tidak suka kepada pelantikan tersebut. Lalu beliau memerintahkan supaya memanggil umat Islam untuk mendirikan sholat. Selepas itu orang-orang pergi ke masjid. Lantas beliau mengucapkan puji-pujian kepada Allah dan berselawat kepada Nabi SAW kemudian beliau berkata: “Wahai sekalian umat manusia! Aku telah diuji untuk memegang tugas ini tanpa meminta pandanganku terlebih dahulu dan bukan pula permintaanku serta tidak didiskusikan bersama dengan umat Islam. Sekarang aku membatalkan baiat yang kamu berikan kepadaku dan pilihlah seorang Khalifah yang kamu ridhoi”. Tiba-tiba orang-orang serentak berkata: “Kami telah memilih kamu wahai Amirul Mukminin dan kami juga ridho kepada kamu. Oleh yang demikian perintahlah kami dengan kebaikan dan keberkatan”. Lalu beliau berpesan kepada umat: “Wahai sekalian umat manusia! Sesiapa yang taat kepada Allah, dia wajib ditaati dan sesiapa yang tidak taat kepada Allah, dia tidak wajib ditaati oleh sesiapapun. Wahai sekalian umat manusia! Taatlah kamu kepada aku selagi aku taat kepada Allah di dalam memimpin kamu dan sekiranya aku tidak taat kepada Allah, janganlah sesiapa mentaati aku”. Setelah itu beliau turun dari mimbar. Adakah pemimpin sekarang yang melakukan sumpah syahadah seperti itu? Saya sangat berharap akan ada dan harus ada.
Dalam kisah lainnya tentang Umar bin Abdul Aziz sesaat setelah diangkat menjadi Khalifah dan Amirul Mukminin, Umar langsung mengajukan pilihan kepada Fatimah, isteri tercinta. Umar: “Isteriku sayang, aku harap engkau memilih satu di antar dua.” Fatimah bertanya kepada suaminya, “Memilih apa, kakanda?” Umar bin Abdul Azz menerangkan, “Memilih antara perhiasan emas berlian yang kau pakai atau Umar bin Abdul Aziz yang mendampingimu.” Kata Fatimah, “Demi Allah, aku tidak memilih pendamping lebih mulia daripadamu, ya Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku.” Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima semua perhiasan itu dan menyerahkannya ke Baitulmal, kas Negara kaum muslimin. Sementara Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya makan makanan rakyat biasa, yaitu roti dan garam sedikit. Itulah sepenggal kisah seorang pemuda Islam yang bersumpah setia dengan syahadahnya.
Islam bangga dengan kehadiran mereka. Selain Umar, sejarah juga masih mencatat beberapa pemuda pengharum dunia dan penerang bumi. Mereka diantaranya adalah Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu al Nawawi atau yang lebih dikenal dengan Imam Nawawi. Ia menghafal Al-Quran sejak kecil lagi. Ketika berusia 19 tahun, ia pergi ke kota Damsyik (Damaskus) untuk belajar. Dalam suatu riwayat Imam Nawawi pernah diusir oleh Sultan al-Malik al-Zahir karena beliau berfatwa tidak membenarkan Sang Raja yang mengharuskan mengambil harta rakyat -meskipun untuk keperluan memerangi orang-orang Tartar- selama kekayaannya sendiri masih dapat dipergunakan. Imam Nawawi mengatakan demikian karena sang Sultan diketahui memiliki seribu orang pembantu yang tiap-tiap orangnya memikul banyak emas dan memiliki 200 pembantu wanita yang masing-masing mengenakan perhiasan yang bernilai. Begitulah letak syahadah pemuda Islam yang menjiwai Imam Nawawi. Baginya, kekuasaan tidak bernilai di depan kebenaran.
Tokoh pemuda lain bernama Ibnu Hajar Al ‘Asqalani (773 – 852 H), yang ketika remaja telah menghafal kitab al Hawi karangan Al Mawardi dan kitab Mukhtasar karangan Ibnul Hajib. Tidak lama setelah itu berangkat ke Mekkah dan belajar dan kemudian menjadi Qadhi Mesir lebih kurang selama 2l tahun dalam usia yang masih muda. Lagi-lagi contoh pemuda Islam yang setia dengan sumpah syahadahnya. Imam Suyuthi, menghabiskan waktu mudanya untuk berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lain mencari ilmu, dari Bagdad sampai ke Syria (Syam), sampai ke Hijaz, Yaman, India, Marokko, Tekruri dan lain-lain daerah Islam ketika itu. Hasilnya, Kitab Tafsir Jalalayn keluar dari penanya.
Nama abadi dari generasi yang menorehkan tinta emas dalam sejarah Islam juga mencatat nama Muhammad Fatih atau Sultan Mehmed II. Ia merupakan pemuda yang memiliki kecerdasan multi bidang. Ia menguasai bidang militer, sains, matematika & menguasai 6 bahasa saat berumur 21 tahun. Jika sekarang, ia oleh dibilang sebagai seorang Profesor Doktor dengan predikat Summacumlaude dari beberapa bidang. Tepat pukul 1 pagi hari Selasa 20 Jumadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453 M, tentara Utsmaniyyah dibawah kepemimpinannya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne. Ketika itu, ia baru berumur sekitar 21 tahun.
Penulis melihat tidak ada seorang komandan yang seusianya sudah mampu meruntuhkan kekuatan negara Super Power saat itu. Tak kurang cerita pemuda Muhammad Al Fatih ini. Diceritakan bahwa tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib sejak baligh & separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajjud sejak baligh. Hanya Sulthan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan solat wajib, tahajud & rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya. Para ulama mengisyaratkan bahwa beliau adalah pemuda yang dimaksudkan Rasul SAW ketika menubuwahkan kejayaan Islam. “Konstantinopel akan ditaklukkan oleh tentara Islam. Rajanya adalah sebaik-baik raja & tentaranya adalah sebaik-baik tentara” (Nabi Muhammad). “Aku mendengar baginda Rasulullah SAW mengatakan seorang lelaki soleh akan dikuburkan di bawah tembok tersebut dan aku juga ingin mendengar derapan tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentara seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda Rasul” (Abu Ayyub al-Anshari kepada panglima Bani Umayyah).
Tokoh-tokoh abad ini juga mencatat nama Qardhawi yang pada umur 19 telah diberikan kuasa untuk memberi fatwa. Kehidupan penjara sebagaimana dialami para ulama-ulama dulu juga telah ia alami sejak muda. Saat Mesir dipegang Raja Faruk, dia masuk bui tahun 1949, saat umurnya masih 23 tahun, karena keterlibatannya dalam pergerakan Ikhwanul Muslimin. Pada April tahun 1956, ia ditangkap lagi saat terjadi Revolusi Juni di Mesir. Bulan Oktober kembali ia mendekam di penjara militer selama dua tahun. Qardhawi terkenal dengan khutbah-khutbahnya yang berani sehingga sempat dilarang sebagai khatib di sebuah masjid di daerah Zamalik. Alasannya, khutbah-khutbahnya dinilai menciptakan opini umum tentang ketidak adilan rejim saat itu. Usia 10 tahun, ia sudah hafal al-Qur’an. Kokohnya pondasi Qardhawi ketika masih muda melahirkan anak-anak yang luar biasa. Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika. Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika, yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik.
Dari sekian banyak para tokoh-tokoh Islam tersebut yang saya ceritakan beberapa orangnya merupakan orang-orang yang menjadikan masa mudanya dengan ukiran sejarah. Sumpah setia mereka akan syahadah luar biasa. Tak salah bila Nabi SAW berucap tentang Pemuda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.” Sudahkah kita bersumpah setia selaksana para pemuda Islam seperti mereka di atas? Ataukah kita masih menjadi pemuda yang hidup di bawah bayang-bayang ayah, ibu, orang tua, keluarga, dan romansa masa lalu? Saya teringat nasehat seorang kawan,

“innal fata man yaqul ha ana dza, laysal fata man yaqulu ka na abi..!!”
(Seorang pemuda ialah siapa yang berani menepuk dada dan berkata “inilah aku”. Bukan pemuda yang mengatakan “adalah ayahku” alias membanggakan orang lain semata).

“inna fii yadii sukban amrul ummah wa fii aqdaamiha hayataha”

(Sungguh di tangan pemuda-lah masa depan / urusan ummat, dan di atas pundaknyalah kelangsungan kehidupannya) Oleh karenanya, saya sampaikan sebuah pesan untuk saya dan para pemuda, ”Wahai Pemuda, Nyalakan Semangatmu…!!!”
Ahmed Fikreatif
.:: Jika Saudara / i menyukai tulisan ini, maka sekarang Anda dapat memberikan apresiasi dengan ikut memberikan donasi / kontribusi finansial ala Blogger. Jika Saudara / i membenci sebagian atau keseluruhan tulisan ini pun saya tetap mempersilakan untuk ikut memberikan donasi. Namun, jika saudara / i tidak bersedia memberikan donasi, itu pun tidak mengapa… Caranya, silakan baca link berikut ini ( klik di sini..! ) ::.
“Gajah Mati Meninggalkan Gading, Harimau Mati Meninggalkan Belang, Manusia Mati Meninggalkan Nama, Blogger Mati Meninggalkan Postingan”
Referensi:
  1. http://en.wikipedia.com/
  2. http://in.wikipedia.com/
  3. http://al-atsariyyah.com/
  4. http://majalah.tempointeraktif.com/
  5. http://eramuslim.com/
  6. http://media.isnet.org/
  7. http://muslimdaily.net