Minggu, 31 Oktober 2010

Nevertirees: Orang-Orang yang Tidak Mengenal Pensiun!

Doa untuk mati di puncak pencapaian pernah dicontohkan di al-Qu’ran. Yakni kisah Nabi Yusuf Alaihi Salam
Oleh: Muhaimin Iqbal* 
Hidayatullah.com--Di periode terakhir saya menjabat sebagai Presiden Direktur sebuah perusahaan publik, Komisaris Utama saya adalah seorang pengusaha pejuang yang berusia 86 tahun. Beliau tetap memimpin RUPS perusahaan kami, sampai benar-benar usia dan kesehatan tidak memungkinkan dan wafat setahun kemudian. Saya mengenal langsung tokoh ini pertama kalinya awal 90-an ketika saya menjadi moderator dalam suatu seminar perkapalan internasional dan beliau sebagai salah satu narasumber-nya.
Di puncak krisis Indonesia tahun 1998 sebagai direksi saya juga memiliki Komisaris Utama seorang pengusaha pejuang lainnya yang berusia 80 tahun. Dari tokoh-tokoh pengusaha tiga zaman tersebut:  Orde Lama, Orde Baru, dan Era Reformasi, inilah saya beruntung bisa belajar banyak tentang wisdom dalam berusaha.
Sebelum dunia mengenal istilah social business yang baru muncul belakangan, para tokoh pengusaha pejuang tersebut mendirikan berbagai perusahaan bank, asuransi, perkapalan, obat, distribusi dlsb. di dasawarsa pertama kemerdekaan RI. Targetnya saat itu bukan untung – melainkan mengisi kemerdekaan agar tidak tergantung pada perusahaan-perusahaan eks penjajah yang masih eksis sampai beberapa tahun setelah Indonesia merdeka.
Niat berusaha yang luhur demikianlah yang mendorong mereka tetap mampu berkarya secara maksimal sampai usia yang sangat lanjut. Salah satu tokoh yang saya sebutkan tersebut, bahkan tetap mampu bekerja maksimal 30 tahun setelah serangan jantung yang mengenainya di usia 50-an tahun.
Berbeda dengan motif untuk tetap berkarya dari dua tokoh yang saya sebutkan di atas,  masyarakat pekerja yang hidup di zaman yang semakin kompetitif dan biaya hidup yang semakin mahal sekarang ini juga terdorong untuk bekerja – atau kadang terpaksa tetap bekerja - sampai usia lanjut. Maka muncullah sekarang apa yang disebut generasi nevertirees, yaitu generasi orang-orang yang tidak mau menyerah pensiun meskipun usia-nya sudah lanjut.
Nah sekarang bagaimana Anda bisa menyiapkan diri agar bisa memasuki usia nevertirees Anda kelak dengan dignity (gagah, terhormat, percaya diri...).
Berikut adalah beberapa poin yang perlu Anda persiapkan.
Pertama, jangan biarkan tabungan hasil jerih payah Anda selagi muda tergerus oleh inflasi sehingga menjadi tidak bernilai ketika Anda butuhkan di usia nevertirees. Investasi-lah sejak muda...!
Kedua, tekuni suatu minat, hobi atau kegemaran yang Anda nikmati dalam menggelutinya, namun juga berpeluang untuk menjadi ‘produksi’ bagi Anda dan bukannya ‘konsumsi’.
Ketiga, bangun kompetensi Anda di bidang yang Anda nikmati tersebut, sampai sedemikian rupa sehingga Anda bisa menjadi tokoh atau referensi di bidang tersebut. Dua tokoh yang saya ceritakan tersebut di atas, keduanya tokoh yang sangat terkenal di bidangnya masing-masing, yaitu perkapalan dan perbankan.
Keempat,  bangun jaringan dengan orang-orang yang berkompeten di bidang yang Anda minati, agar Anda bisa saling mengisi dan menyempurnakan.
Kelima, akumulasikan pengetahuan dan pengalaman Anda dan berkaryalah dengan kekuatan (akumulasi pengetahuan dan pengalaman) Anda tersebut.
Keenam, selain investasi pada diri Anda sendiri, investasilah pada orang-orang sekitar Anda yang bisa benar-benar Anda percayai. Mereka ini akan menjadi andalan Anda, ketika fisik Anda tidak memungkinkan untuk melanjutkan karya Anda.
Ketujuh, buatlah surat wasiat yang jelas dan adil untuk memudahkan ahli waris dan orang-orang kepercayaan Anda agar dapat melanjutkan karya-karya yang Anda hasilkan.
Mati di Puncak Pencapaian
Dalam Islam bekerja secara maksimal ini  diajarkan dalam rangkaian doa yang tergabung dalam doa khatam al-Qur’an. “....Allhummaj’al khaira ‘umry aakhirahu wa khaira ‘amaly  khawaatimahu wa khaira ayyaami yauma alqooka fiih” yang artinya , “Ya Allah jadikanlah yang terbaik dari umurku adalah akhirnya, dan yang terbaik dari amal perbuatanku adalah penutupnya, dan  yang terbaik dari hariku  adalah hari ketika aku bertemu denganMu...”
Doa untuk mati di puncak pencapaian ini juga dicontohkan di al-Qu’ran. Ketika Nabi Yusuf Alaihi Salam sudah menjadi raja dan sudah dipertemukan dengan kedua orangtuanya yang terpisah sejak kecil, dia pun memohon: “Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian takbir mimpi. (Ya Tuhan). Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS 12:101)
Bahwasanya doa tersebut dipanjatkan ketika Nabi Yusuf Alaihi Salam di puncak pencapaian - bukannya ketika dia lagi difitnah dan dipenjara – ini menjadi pelajaran tersendiri bagi kita, yaitu untuk mencapai akhir hayat yang terbaik.
Semoga Allah memudahkan kita untuk amal yang diridloiNya.
Penulis adalah Direktur GeraiDinar dan kolumnis www.hidayatullah.com

0 komentar:

Posting Komentar